Setiap Anak adl JUARA

Setiap Anak adalah juara. Paradigma ini mesti menancap kuat di benak Setiap orang tua Dan guru. Allah SWT Yang Maha Sempurna tidak mungkin menciptakan produk yang rijek khan? Permasalahannya adalah bagaimana menemukan bidang kehebatan Ana kita, kemudian fokus untuk mengasah kehebatan tersebut. So, yuks bersegera mengetahui kehebatan Setiap Anak maupun Anak didik kita. Dan STIFIn Learning Center siap membantu Anda semua.

Mirisnya Pendidikan di Negeriku

Dalam pidatonya yang dikutip oleh KOMPAS.com (2014), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, menyebut bahwa kondisi pendidikan Indonesia saat ini sedang dalam kondisi gawat darurat. Kondisi gawat darurat tersebut ditunjukkan dengan data sebagai berikut:
•Nilai rata-rata kompetensi pendidik di Indonesia hanya 44.5, padahal nilai standar kompetensi pendidik adalah 75.
•Indonesia masuk peringkat ke-40 dari 40 negara pada pemetaan kualitas pendidikan menurut lembaga The learning Curve.
•Dalam pemetaan di bidang pendidikan tinggi, Indonesia peringkat ke-49 dari 50 negara yang diteliti.
•Pendidikan Indonesia masuk peringkat ke-64 dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assesment (PISA) pada tahun 2012.
•Kekerasan yang melibatkan siswa di dalam maupun di luar sekolah terus meningkat.

Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan

Pendahuluan

“Education is the total process of developing human abilities and behaviors, drawing on almost all life’s experiences.” (Tardif, 1987 dalam Muhibbin Syah, 2008: 10). Dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan, proses belajar menjadi unsur fundamental karena sangat mempengaruhi pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karenanya, teori tentang belajar menjadi salah satu topik yang penting untuk dikaji.
Definisi belajar yang paling populer adalah yang dikemukakan oleh Kimble pada tahun 1961, bahwa belajar merupakan perubahan yang relatif permanen di dalam behavioral potentiality (potensi behavioral) yang terjadi sebagai akibat dari praktik yang diperkuat (Hergenhahn dan Olson, 2008: 2). Sementara Reber dalam Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua definisi. Pertama, belajar adalah The process of acquiring knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar adalah A relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice, yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat (Muhibbin Syah, 2008: 91).
Menurut Sanjaya (2008: 52), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, diantaranya faktor guru, faktor siswa, sarana, alat dan media yang tersedia, serta faktor lingkungan. Faktor guru meliputi teacher formative experience (jenis kelamin dan semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang kehidupan sosialnya), teacher training experience (pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan), dan teacher properties (segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat dan sikap guru terhadap profesinya). Faktor siswa mencakup aspek latar belakang, karakteristik dan sifat siswa dengan beragam kemampuan dasarnya. Sementara faktor lingkungan meliputi faktor organisasi kelas dan iklim sosio-psikologis.
Dari uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa pembelajaran merupakan proses yang kompleks. Guru sebagai lakon utama perlu memahami seluk beluk terkait perilaku dan perkembangan siswanya, disamping materi ajar dan strategi pengajarannya. Guru perlu memiliki keahlian motivasional, komunikasi dan komitmen, disamping keahlian manajemen kelas. Guru pun perlu memiliki pengetahuan terkait teori-teori belajar (theories of learning). Disinilah psikologi pendidikan/pembelajaran menjadi ilmu yang penting bagi setiap guru.

Definisi, Perkembangan dan Manfaat Psikologi Pendidikan

Santrock (2008: 4) mendefinisikan psikologi sebagai studi ilmiah tentang perilaku dan proses mental. Sementara psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan. Muhibbin Syah (2008:12) mengutip definisi psikologi pendidikan yang dikemukakan Barlow pada tahun 1985 sebagai a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resources to aid you in functioning more effectively in teaching learning process. Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu melaksanakan tugas guru dalam proses belajar-mengajar secara lebih efektif.
Sementara itu, Tardif (1987) dalam Muhibbin Syah (2008: 13) mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai sebuah bidang studi yang berhubungan dengan penerapan pengetahuan tentang perilaku manusia untuk usaha-usaha pendidikan. Adapun ruang lingkupnya meliputi:
1)Context of teaching and learning (situasi atau tempat yang berhubungan dengan mengajar dan belajar).
2)Process of teaching and learning (tahapan-tahapan dalam mengajar dan belajar).
3)Outcomes of teaching and learning (hasil-hasil yang dicapai oleh proses mengajar dan belajar).
Lebih detail Muhibbin Syah (2008:24) menjelaskan bahwa psikologi pendidikan pada asasnya adalah sebuah disiplin psikologi yang khusus mempelajari, meneliti dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan, meliputi tingkah laku belajar siswa, tingkah laku mengajar guru dan tingkah laku belajar-mengajar oleh siswa dan guru yang saling berinteraksi. Pendekatan dalam psikologi pendidikan adalah pendekatan ilmiah (scientific approach). Secara garis besar, pokok bahasan psikologi pendidikan dibatasi menjadi tiga.
1)Pokok bahasan mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip dan ciri khas perilaku belajar siswa.
2)Pokok bahasan mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar siswa.
3)Pokok bahasan mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa.
Dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan, Santrock (2008:4) menguraikan tentang historis psikologi pendidikan. Ada tiga tokoh terkemuka yang menjadi perintis awal psikologi pendidikan, yaitu William James, John Dewey dan E.L. Thorndike.
William James (1842-1910). Setelah meluncurkan buku ajar psikologinya yang pertama, Principles of Psychology (1890), William James mendiskusikan aplikasi psikologi untuk mendidik anak. James mengatakan bahwa eksperimen psikologi di laboratorium sering kali tidak bisa menjelaskan bagaimana cara mengajar anak secara efektif. Dia menegaskan pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasi James adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak.
John Dewey (1859-1952). Tokoh ini menjadi motor penggerak untuk mengaplikasikan psikologi di tingkat praktis. Ide penting Dewey yaitu Pertama, pandangan tentang anak sebagai pembelajar aktif (active learner). Sebelumnya, ada pandangan bahwa anak-anak mestinya duduk diam di kursi mereka dan mendengarkan pelajaran secara pasif dan sopan. Namun, Dewey percaya bahwa anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika mereka aktif. Kedua, ide bahwa pendidikan seharusnya difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Anak-anak seharusnya tidak hanya mendapatkan pelajaran akademik saja, tetapi juga harus diajari cara untuk berpikir dan beradaptasi dengan dunia di luar sekolah. Secara khusus Dewey berpendapat bahwa anak-anak harus belajar memecahkan masalah secara reflektif. Ketiga, gagasan bahwa semua anak berhak mendapat pendidikan yang selayaknya.
E.L. Thorndike (1874-1949). Thorndike banyak memberikan perhatian pada penilaian dan pengukuran serta perbaikan dasar-dasar belajar secara ilmiah. Ia berpendapat bahwa tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak. Ia mengajukan gagasan bahwa psikologi pendidikan harus punya basis ilmiah dan harus fokus pada penalaran.
Pada perkembangan berikutnya, psikologi pendidikan yang paling menonjol terbagi dalam tiga aliran yaitu aliran humanisme dengan tokoh utama J.J. Rousseau, Abraham Maslow dan C. Rogers; aliran behaviorisme dengan tokoh utama J.B. Watson, E.L. Thorndike dan B.F. Skinner; aliran psikologi kognitif dengan tokoh utama J. Piaget, J. Bruner dan D. Ausubel (Muhibbin Syah, 2008:24).
Menurut Lindgren sebagaimana yang dikutip Surya (1982) dalam Muhibbin Syah (2008: 18), manfaat psikologi pendidikan adalah membantu guru dan calon guru dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai kependidikan dan prosesnya. Sementara Chaplin (1972) yang dikutip Muhibbin Syah (2008: 18) menitikberatkan manfaat psikologi pendidikan untuk memecahkan masalah-masalah psikologis yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan menggunakan metode-metode yang telah disusun secara rapi dan sistematis. Tidak perlu dibedakan apakah masalah psikologis tersebut timbul dari pihak guru, siswa, atau situasi belajar-mengajar yang dihadapi guru dan siswa yang bersangkutan. Muhibbin Syah (2008: 18) memerinci bahwa setidaknya ada 10 kegiatan pendidikan yang memerlukan prinsip-prinsip psikologi, yakni: 1) seleksi penerimaan siswa baru; 2) perencanaan pendidikan; 3) penyusunan kurikulum; 4) penelitian kependidikan; 5) administrasi kependidikan; 6) pemilihan materi pelajaran; 7) interaksi belajar-mengajar; 8) pelayanan bimbingan dan penyuluhan; 9) metodologi mengajar; 10) pengukuran dan evaluasi.

Teori Perkembangan Manusia
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), perkembangan adalah perihal menjadi besar, luas dan banyak serta bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pengetahuan dan sebagainya. Menurut Dictionary of Psychology (1972) dan The Penguin Dictionary of Psychology (1988) yang dikutip oleh Muhibbin Syah (2008: 42), perkembangan pada prinsipnya adalah tahapan perubahan yang progresif yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainnya tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam diri organisme tersebut. Secara lebih luas, Dictionary of Psychology di atas memerinci pengertian perkembangan manusia sebagai berikut:
1)The progressive and continous change in the organism from birth to death, perkembangan itu merupakan perubahan yang progresif dan terus-menerus dalam diri organisme sejak lahir hingga mati.
2)Growth, perkembangan berarti pertumbuhan.
3)Change in the shape and integration of bodily parts into functional parts, perkembangan berarti perubahan dalam bentuk dan penyatuan bagian-bagian yang bersifat jasmaniah ke dalam bagian-bagian yang fungsional.
4)Maturation or the appearance of fundamental pattern of unlearned behavior, perkembangan adalah kematangan atau kemunculan pola-pola dasar tingkah laku yang bukan hasil belajar.

Faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah proses pematangan khususnya pematangan fungsi kognitif, proses belajar dan pembawaan atau bakat. Ketiganya saling berakiatan erat dan saling berpengaruh dalam perkembangan kehidupan manusia (Muhibbin Syah, 2008: 43). Lebih lanjut Muhibbin menjelaskan bahwa ada beberapa pandangan tentang faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia.
1.Aliran Nativisme
Tokoh aliran ini adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Nativisme berpandangan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti ini disebut “pesimisme pedagogis”.
2.Aliran Empirisisme
Tokoh aliran ini adalah John Locke (1632-1704). Doktrin yang mashyur dari empirisisme adalah “tabula rasa”, yang menganggap bahwa setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Pengalaman, lingkungan dan pendidikan akan sangat mempengaruhi perkembangannya.
3.Aliran Konvergensi
Tokoh aliran ini adalah Louis William Stern (1871-1938). Aliran konvergensi merupakan gabungan antara empirisisme dan nativisme. Tokoh-tokoh aliran ini berkeyakinan bahwa faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama besar andilnya dalam mempengaruhi perkembangan manusia.

Santrock (2008: 41) menjelaskan bahwa pola perkembangan anak adalah pola yang kompleks karena merupakan hasil dari beberapa proses, yaitu proses biologis, kognitif dan sosioemosional. Proses biologis adalah perubahan dalam tubuh anak, warisan genetik memainkan peranan penting. Proses kognitif adalah perubahan dalam pemikiran, kecerdasan dan bahasa anak. Proses sosioemosional adalah perubahan dalam hubungan anak dengan orang lain, perubahan dalam emosi dan perubahan dalam kepribadian.
Untuk tujuan organisasi dan pemahaman, perkembangan anak biasanya dideskripsikan sesuai periodenya meliputi periode infancy, early childhood, middle and late childhood, adolescence, early adulthood, middle adulthood dan late adulthood. Infancy (bayi) adalah periode 0-24 bulan. Ini adalah masa ketika anak sangat tergantung kepada orang tuanya. Perkembangan bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor dan pembelajaran sosial baru dimulai. Early childhood (balita) atau usia prasekolah adalah periode akhir masa bayi sampai dengan lima atau enam tahun. Pada periode ini anak makin mandiri, siap untuk bersekolah dan banyak menghabiskan waktu bersama teman. Middle dan late childhood (periode sekolah dasar) dimulai dari usia 6-11 tahun. Anak mulai menguasai keahlian membaca, menulis, berhitung dan makin mampu mengendalikan diri. Pada periode ini mereka berinteraksi lebih luas dengan dunia di luar keluarganya. Adolescence (remaja) merupakan periode transisi dari masa anak-anak ke dewasa. Periode ini ada di rentang usia 10 atau 12 tahun sampai 18 atau 20 tahun. Remaja mengalami perubahan fisik yang cepat, ingin bebas dan mencari jati diri, pemikiran mereka menjadi semakin abstrak, logis dan idealistis.
Teori perkembangan manusia memberikan implikasi positif dalam ruang pembelajaran. Dengan memahaminya, guru dapat meramu menu pembelajaran sesuai dengan usia perkembangan siswanya sehingga pendidikan tidak kehilangan arah. Perkembangan tersebut meliputi perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan perkembangan sosioemosional.

Perkembangan Kognitif
1.Teori Piaget (Santrock, 2008: 47); (Hergenhahn dan Olson, 2008: 311)
Melalui observasinya, Piaget menyebutkan bahwa perkembangan kognitif terjadi dalam empat tahapan yaitu sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret dan operasional formal. Masing-masing tahapan berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbeda.

2.Teori Vygotsky (Santrock, 2008: 60)
Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygotsky. Pertama, keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental. Kedua, kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental. Ketiga, kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.
Di dalam ketiga klaim dasarnya, Vygotsky mengajukan gagasan yang unik dan kuat tentang hubungan antara pembelajaran dan perkembangan. Gagasan tersebut adalah konsep tentang zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding.
Zone of Proximal Development adalah istilah Vygotsky untuk serangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan dari orang dewasa atau anak yang lebih mampu. Batas bawah ZPD adalah tingkat problem yang dapat dipecahkan oleh anak seorang diri. Batas atasnya adalah tugas tambahan yang dapat diterima anak dengan bantuan dari instruktur yang mampu. ZPD menegaskan tentang pentingnya pengaruh sosial terutama instruksi atau pengajaran terhadap perkembangan kognitif anak.
Scaffolding erat kaitannya dengan ZPD, yaitu sebuah teknik untuk mengubah level dukungan. Saat kemampuan siswa meningkat, maka semakin sedikit bimbingan yang diberikan oleh guru.
Meskipun Piaget dan Vygotsky mendasarkan pada teori konstruktivisme, pendekatan Vygotsky adalah pendekatan konstruktivis sosial yang menekankan pada konteks sosial dari pembelajaran. Sementara Piaget menggunakan pendekatan konstruktivis kognitif.

Santrock (2008: 61) memberikan saran bahwa untuk menerapkan Teori Piaget dalam pembelajaran, ada enam strategi yang bisa dilakukan oleh guru:
1)Gunakan pendekatan konstruktivis untuk semua mata pelajaran, siswa diajari untuk membuat penemuan, memikirkannya dan mendiskusikannya, bukan menyalin apa-apa yang dikatakan atau dilakukan guru.
2)Fasilitasi siswa untuk belajar. Guru harus merancang situasi yang membuat siswa belajar dengan bertindak (learning by doing) sehingga meningkatkan kemampuan pemikiran dan penemuan siswa. Guru mendengar, mengamati dan mengajukan pertanyaan yang relevan untuk merangsang siswa berpikir dan mintalah siswa untuk menjelaskan jawaban mereka.
3)Pertimbangkan pengetahuan dan tingkat pemikiran anak. Siswa tidak datang ke sekolah dengan kepala kosong, mereka punya konsep tentang dunia fisik dan alam. Guru harus menginterpretasikan apa yang dikatakan siswa dan meresponnya dengan memberikan wacana yang sesuai dengan tingkat pemikiran mereka.
4)Gunakan penilaian terus-menerus untuk mengevaluasi kemajuan siswa.
5)Tingkatkan kemampuan intelektual siswa secara alamiah. Siswa tidak boleh didesak dan ditekan untuk berprestasi terlalu banyak di awal perkembangan mereka sebelum mereka siap.
6)Jadikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi dan penemuan.
Untuk menerapkan Teori Vygotsky dalam pembelajaran, Santrock (2008: 64) merekomendasikan tujuh strategi mengajar sebagai berikut:
1)Gunakan zone of proximal development. Mengajar harus dimulai pada batas atas zona dimana siswa mampu mencapai tujuan dengan petunjuk guru. Dengan petunjuk dan latihan, siswa akan mengorganisasikan dan menguasai keahlian yang diharapkan. Guru pelan-pelan mengurangi penjelasan, petunjuk dan demonstrasi sampai siswa mampu melakukan keahlian itu sendiri.
2)Gunakan teknik scaffolding. Berikan bantuan kepada siswa hanya sesuai kebutuhannya saja.
3)Gunakan kawan sesama siswa yang lebih ahli sebagai guru.
4)Dorong pembelajaran kolaboratif dan sadari bahwa pembelajaran melibatkan suatu komunitas orang yang belajar.
5)Pertimbangkan konteks kultural dalam pembelajaran.
6)Pantau dan dorong anak-anak dalam menggunakan private speech (berbicara dengan diri sendiri) terutama pada masa awal sekolah dasar.
7)Fokuskan penilaian pada nilai ZPD, bukan IQ.

Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah bentuk komunikasi. Menurut Vygotsky, bahasa memainkan peran utama dal am perkembangan kognitif anak (Santrock, 2008: 67). Menurut ahli bahasa Noam Chomsky (1957) dalam Santrock (2008: 69), faktor biologis mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Faktor lingkungan sosial juga mempengaruhi perkembangan bahasa (Nelson, Aksu-Koc & Johnson, 2001; Snow & Beals, 2001 dalam Santrock, 2008: 69).
Penguasaan bahasa melewati beberapa tahapan. Berikut ini indikator perkembangan bahasa anak sesuai periode umur menurut Santrock (2008: 75).
Periode Umur Perkembangan/Perilaku Bahasa Anak
0-6 bulan Sekadar bersuara, membedakan huruf hidup,berceloteh pada akhir periode
6-12 bulan Celoteh bertambah,menggunakan bahasa isyarat untuk mengomunikasikan suatu objek
12-18 bulan Kata pertama diucapkan, memahami 50 kosakata
18-24 bulan Kosakata bertambah sampai 200 kata, kombinasi dua kata

Periode Umur Perkembangan/Perilaku Bahasa Anak
2 tahun Kosakata bertambah cepat
Penggunaan bentuk jamak secara tepat
Penggunaan kata lampau (past tense)
Penggunaan beberapa preposisi atau awalan
3-4 tahun Panjang ucapan naik dari 3 sampai 4 mofem per kalimat
Menggunakan pertanyaan “ya” dan “tidak”; “mengapa, di mana, siapa, kapan”
Menggunakan bentuk negatif dan perintah
Pemahaman pragmatis bertambah
5-6 tahun Kosakata mencapai 10.000 kata
Koordinasi kalimat sederhana
6-8 tahun Kosakata terus bertambah cepat
Lebih ahli menggunakan aturan sintaksis
Keahlian bercakap meningkat
9-11 tahun Definisi kata mencakup sinonim
Strategi berbicara terus bertambah
11-14 tahun Kosakata bertambah dengan kata-kata abstrak
Pemahaman bentuk tata bahasa kompleks
Pemahaman fungsi kata dalam kalimat
Memahami metafora dan satire
15-20 tahun Memahami karya sastra dewasa

Perkembangan Sosioemosional
1.Teori Erickson (Santrock, 2008: 86)
Erickson dikenal dengan Teori Perkembangan Rentang Hidup, bahwa setiap orang akan melalui delapan tahap perkembangan berikut:
Kepercayaan versus ketidakpercayaan adalah tahap psikososial pertama, yaitu masa bayi tahun pertama. Perkembangan kepercayaan (trust) membutuhkan pengasuhan yang hangat dan bersahabat.
Otonomi versus malu dan ragu adalah tahap psikososial kedua, terjadi pada masa bayi akhir (late infancy) dan masa belajar berjalan (toddler).
Inisiatif versus rasa bersalah adalah tahap psikososial ketiga. Tahap ini berhubungan dengan masa kanak-kanak awal, sekitar usia 3-5 tahun.
Upaya versus inferioritas adalah tahap psikososial keempat, terjadi pada masa sekolah dasar, dari usia 6 tahun hingga usia puber atau remaja awal.
Identitas versus kebingungan identitas adalah tahap psikososial kelima, yaitu pada masa remaja. Remaja berusaha mencari tahu jati dirinya, apa makna dirinya dan ke mana mereka akan menuju.
Intimasi versus isolasi adalah tahap psikososial keenam, terjadi pada masa dewasa awal. Tugas perkembangannya adalah membentuk hubungan yang positif dengan orang lain.
Generativitas versus stagnasi adalah tahap psikososial ketujuh, terjadi pada masa dewasa pertengahan, sekitar usia 40-50 tahun. Generativitas berarti mentransmisikan sesuatu yang positif kepada generasi selanjutnya, bisa melalui peran parenting dan pengajaran. Erickson mendeskripsikan stagnasi sebagai perasaan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu generasi selanjutnya.
Integritas versus putus asa adalah tahap psikososial kedelapan, terjadi pada masa dewasa akhir yaitu sekitar usia 60-an sampai meninggal. Orang tua merenungi kembali hidupnya dan memikirkan apa-apa yang telah mereka lakukan.

2.Teori Kohlberg (Santrock, 2008: 118); (Muhibbin Syah, 2008: 78)
Kohlberg menyusun teori perkembangan moral yang terdiri dari tiga level utama dengan dua tahap pada setiap level. Konsep penting teori Kohlberg adalah internalisasi, yaitu perubahan perkembangan dari perilaku yang dikontrol secara eksternal ke perilaku yang dikontrol secara internal. Tiga level perkembangan moral menurut Kohlberg adalah sebagai berikut:
•Preconventional reasoning (penalaran prakonvensional) adalah level terbawah dimana pada level ini anak tidak menunjukkan internalisasi nilai-nilai moral. Penalaran moral dikontrol oleh hukuman dan ganjaran eksternal (punishment and reward).
•Conventional reasoning (penalaran konvensional) adalah tahap kedua dalam teori Kohlberg. Pada level ini, internalisasi masih setengah-setengah (intermediate). Anak patuh secara internal pada standar tertentu, tetapi standar itu pada dasarnya ditetapkan oleh orang lain seperti orang tua atau aturan sosial.
•Postconventional reasoning (penalaran post-konvensional) adalah level tertinggi dimana pada level ini moralitas telah sepenuhnya diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar eksternal. Anak mengetahui aturan-aturan moral alternatif, mengeksplorasi opsi, kemudian memutuskan sendiri kode moral apa yang terbaik bagi dirinya.
Sanjaya (2008: 277) merekomendasikan dua pola pembelajaran untuk mengembangkan sikap (afektif) siswa yaitu pola pembiasaan dan modeling. Dengan pola pembiasaan, guru dapat menanamkan sikap tertentu yang diharapkan dari siswa. Dalam pola modeling, penanaman sikap dilakukan dengan mencontoh, maka guru perlu memberikan pemahaman mengapa suatu sikap harus dicontoh.

Keragaman, Karakteristik dan Perbedaan Individu (Individual Differences)
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap individu manusia adalah unik. Thomas Huxley, seorang ahli biologi Inggris abad ke-19 mengatakan bahwa setiap individu menjalani hidupnya dengan cara yang berbeda-beda (Santrock, 2008: 131). Dalam proses pembelajaran di kelas, seorang guru akan berinteraksi bersama siswa-siswa dengan beragam perbedaan: perbedaan karakteristik, inteligensi, gaya belajar, kultur, status sosioekonomi, etnis, gender dan perbedaan-perbedaan lain yang tak terelakkan. Namun menghadapi semua perbedaan di atas, seorang guru dituntut untuk tetap menjalankan tugasnya secara profesional dengan memberdayakan keberagaman tersebut sebagai sumber belajar.

1.Intelgensia

Teori kecerdasan terus berkembang, mulai dari Plato, Aristoteles, Darwin, Alferd Binet, Stanberg, Piaget, hingga Howard Gardner, ke arah yang lebih manusiawi. Sebelumnya, teori kecerdasan mutlak hanya berada dalam pembahasan psikologi. Namun kini, teori kecerdasan berkembang pesat dan mengerucut pada pola yang sama, yaitu makna bahwa kecerdasan banyak ditentukan oleh faktor situasi dan kondisi yang terjadi pada saat teori tersebut muncul. Pada tahun 1905, Binet dan Simon berhasil menciptakan tes kecerdasan yang pertama dan mengumumkan kepada masyarakat luas bahwa kecerdasan dapat diukur secara objektif, dinyatakan dalam satuan angka, yaitu nilai Intelligence Quotient (IQ). Binet dan Simon melegitimasi bahwa tingkat kecerdasan seseorang bersifat eugenic (turunan). Binet dan Simon ingin menghubungkan faktor keturunan dengan faktor kecerdasan.
Pada tahun 1914, seorang psikolog Jerman, William Stern, mengusulkan untuk membagi usia mental anak dengan usia kronologi. Formula ini kemudian disempurnakan oleh Lewis Terman, psikolog dari Universitas Stanford, Amerika, dengan mengalikan rumus yang dikembangkan Stern dengan angka 100. Perhitungan inilah yang kemudian menjadi rumus untuk menentukan tingkat kecerdasan seseorang. Tes IQ ini diberi nama Stanford-Binet Intelligence Test dan masih sering digunakan hingga saat ini.
Tes Stanford-Binet dianggap masih terlalu umum. Charles Sperman mengemukakan bahwa kecerdasan tidak hanya dipengaruhi satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini dikenal dengan Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini mencakup Wechsler Preschool and Primary Scale of Inteligence-Revised (WPPSIR) untuk usia 4-6,5 tahun; Wechsler Intelligence Scale for Children-Revised (WISC-R) untuk usia 6-16 tahun; dan Wechsler Adult Intelligence Scale-Revised (WAIS-R) untuk orang dewasa (Santrock, 2008; 136).
Pada tahun 1960 di Amerika Serikat terjadi revolusi pendidikan dan otak menjadi bahasan utama reformasi pendidikan. Dr. Howard Gardner dari Havard University mengkaji ulang kerja otak dengan cara mengorganisasikan cara berpikir. Maka pada tahun 1983, Gardner mendefinisikan ulang makna kecerdasan yang kemudian dikenal dengan Multiple Intelligences Theory. Melalui teorinya, Gardner melakukan kritik terhadap definisi kecerdasan manusia yang diwakili oleh angka-angka yang statis (IQ). Menurutnya, kecerdasan seseorang itu berkembang dan sangat dipengaruhi oleh kebiasaannya.
Setelah tahun 1983, banyak para ahli memunculkan teori kecerdasan yang tidak berbasis angka. Daniel Goleman pada tahun 1985 sukses mempublikasikan Emotional Quotient/EQ (kecerdasan emosi). Kemudian Paul Stoltz mengenalkan Adversity Quotient/AQ (kecerdasan mengatasi kesulitan). Dan pada tahun 2000, Ian Marshall dan Danah Zohar merumuskan teori kecerdasan terbaru, yaitu Spiritual Quotient/SQ (kecerdasan spiritual) yang dianggap sebagai kecerdasan tertinggi.
Dalam bukunya, Smart Baby, Clever Child, Valentine Dmitriev mengatakan bahwa ada dua faktor dalam perkembangan otak manusia yang menjadikan seseorang lebih cerdas daripada orang lain. Dua faktor tersebut adalah keturunan dan lingkungan. Faktor keturunan (genetic) adalah anugrah, tidak banyak yang bisa dilakukan orang tua untuk mengubah warisan gennya, tetapi sangat banyak yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan faktor lingkungan guna meningkatkan potensi perkembangan kecerdasan seorang anak. Faktor lingkungan tersebut bisa berupa:
a.Kecukupan gizi
b.Stimulasi pada usia dini (golden age)
c.Pengalaman yang mendidik
d.Keluarga yang peduli
e.Pendidikan yang sesuai bakat minat anak

Amstrong (2013: 30) menyatakan bahwa pengalaman yang mengkristalisasi dan pengalaman yang melumpuhkan adalah dua proses utama dalam perkembangan kecerdasan. Pengaruh lingkungan berikut juga dapat meningkatkan atau menekan perkembangan kecerdasan:
a.Akses-akses ke sumber daya atau pembimbing
Jika kondisi keluarga miskin sehingga tidak mampu membeli biola, piano atau instrument lain, maka kecenderungan musical akan tidak berkembang.
b.Faktor sejarah-budaya
Jika ada seorang mahasiswa yang menunjukkan “kecenderungan” dalam matematika di saat program matematika dan sains didanai besar-besaran, maka kecerdasan logika matematikanya akan berkembang.
c.Faktor geografis
Jika seseorang dibesarkan di daerah pertanian, maka ia akan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kecerdasan naturalisnya.
d.Faktor keluarga
Jika seseorang ingin menjadi seniman tetapi orang tuanya mengarahkannya menjadi pengacara, maka pengaruh orang tua tersebut akan mendorong perkembangan kecerdasan linguistic daripada kecerdasan spasial.
e.Faktor situasional
Jika seorang anak harus membantu mengurus sebuah keluarga besar saat usia tumbuh kembang, maka ia akan memiliki sedikit waktu untuk mengembangkan area-area yang penting.

2.Multiple Intelligences

Multiple Intelligence dipopulerkan oleh Dr. Howard Gardner pada tahun 1983. Howard Gardner, Profesor Pendidikan di Harvard University telah melakukan penelitian tentang perkembangan kapasitas kognitif manusia. Gardner tidak memandang “kecerdasan” manusia berdasarkan skor tes standar semata, namun Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai berikut:
•Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia.
•Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan.
•Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Munif Chatib (2012: 70) menjelaskan bahwa ada tiga paradigma mendasar dalam teori multiple intelligences, yaitu:
(1)Kecerdasan tidak dibatasi tes formal
Menurut Gardner, kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indicator-indikator yang ada dalam achievement test (tes formal). Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu saja. Menurutnya, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Dan kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.
(2)Kecerdasan itu multidimensi
Kecerdasan menurut Gardner banyak dilihat dari banyak dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal (berbahasa) atau logika saja. Gardner menggunakan istilah “multiple” sehingga memungkinkan ranah kecerdasan terus berkembang. Dan ini terbukti, ranah kecerdasan yang ditemukan Gardner pun terus berkembang, mulai dari 6 kecerdasan saat pertama kali konsep tersebut dimunculkan hingga 9 kecerdasan.
(3)Kecerdasan berkaitan dengan proses discovering ability
Multiple intelligences memiliki metode discovering ability, artinya proses menemukan kemampuan seseorang. Metode ini meyakini bahwa setiap orang pasti memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu dan kecenderungan tersebut yang mestinya ditemukan. Multiple intelligences menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan atau kelebihan seorang anak dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahannya. Proses inilah yang menjadi sumber kecerdasan anak.

Dalam bukunya “Multiple Intelligences”, Gardner (2013: 21) menjelaskan jenis multiple intelligences sebagai berikut:
(1)Linguistic intelligences (kecerdasan linguistik) adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan serta menghargai makna yang kompleks. Para pengarang, penyair, jurnalis, pembicara dan penyiar berita memiliki tingkat kecerdasan linguistik yang tinggi.
(2)Logical-mathematical intelligences (kecerdasan logika matematika) merupakan kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Para ilmuwan, ahli matematika,akuntan, insinyur dan pemrogram computer, semuanya menunjukkan kecerdasan logika matematika yang kuat.
(3)Spatial intelligences (kecerdasan spasial) membangkitkan kapasitas untuk berpikir dalam tiga cara dimensi seperti yang dapat dilakukan oleh pelaut, pilot, pemahat, pelukis dan arsitek. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk merasakan bayangan eksternal dan internal, melukiskan kembali, merubah atau memodifikasi bayangan, mengemudikan diri sendiri dan objek melalui ruangan dan menghasilkan atau menguraikan informasi grafik.
(4)Bodily-kinesthetic intelligences (kecerdasan kinestetik-tubuh) memungkinkan seseorang untuk menggerakkan objek dan ketrampilan-ketrampilan fisik yang halus. Jelas kelihatan pada diri atlet, penari, ahli bedah dan seniman yang mempunyai ketrampilan teknik.
(5)Musical intelligences (kecerdasan musik) jelas kelihatan pada seseorang yang memiliki sensitivitas pada pola titinada, melodi, ritme dan nada. Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini antara lain composer, konduktor, musisi, kritikus dan pembuat alat musik.
(6)Interpersonal intelligences (kecerdasan interpersonal) merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Hal ini terlihat pada guru, pekerja sosial, artis atau politisi.
(7)Intrapersonal intelligences (kecerdasan intrapersonal) merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Ahli ilmu agama, ahli psikologi dan ahli filsafat adalah individu yang memiliki kecerdasan ini.
(8)Naturalis intelligences (kecerdasan naturalis) adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, menggolongkan dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai di alam maupun lingkungan. Inti dari kecerdasan ini adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta. Para filatelis (kolektor perangko), pecinta alam dan pendaki gunung adalah individu yang memiliki kecerdasan ini.
(9)Eksistensial intelligences (kecerdasan eksistensial). Gardner mengkaitkan kecerdasan eksistensial ini dengan aspek spiritualitas.
Menghadapi realitas keberagaman individu ini, sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan semestinya menjadi tempat belajar yang multikultural. Amstrong (2013: 69) menyebutkan bahwa sekolah terbaik (the best school) adalah sekolah yang menganut wacana perkembangan manusia (humanisme). Munif Chatib (2012: 96) menyebutkan bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia, dalam arti menghargai setiap potensi yang ada pada diri siswanya.

Peran Guru dalam Proses Pembelajaran
Secara asas, guru adalah “director of learning” yang bertanggung jawab mengarahkan proses pembelajaran agar mencapai keberhasilan belajar. Menurut Gagne dalam Muhibbin Syah (2008: 250), ada tiga peran guru dalam pembelajaran, yaitu:
1)Sebagai designer of instruction (perancang pembelajaran)
Peran ini menuntut guru untuk senantiasa mampu merancang pembelajaran yang berhasilguna dan berdayaguna.
2)Sebagai manager of instruction (pengelola pembelajaran)
Peran ini menuntut kemampuan guru dalam mengelola seluruh tahapan proses pembelajaran, yakni menciptakan kondisi agar komunikasi dalam kegiatan belajar-mengajar berjalan dengan baik.
3)Sebagai evaluator of student learning (penilai prestasi belajar siswa)
Peran ini menuntut guru untuk senantiasa mengikuti perkembangan kemajuan prestasi siswa.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya tentang manfaat psikologi pendidikan, maka agar dapat menjalankan perannya secara baik, setiap guru harus membekali dirinya dengan ilmu psikologi pendidikan.

Kesimpulan
1.Psikologi pendidikan adalah sebuah disiplin psikologi yang khusus mempelajari, meneliti dan membahas seluruh tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses pendidikan, meliputi tingkah laku belajar siswa, tingkah laku mengajar guru dan tingkah laku belajar-mengajar oleh siswa dan guru yang saling berinteraksi.

2.Secara garis besar, pokok bahasan psikologi pendidikan dibatasi menjadi tiga.
•Pokok bahasan mengenai “belajar”, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip dan ciri khas perilaku belajar siswa.
•Pokok bahasan mengenai “proses belajar”, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar siswa.
•Pokok bahasan mengenai “situasi belajar”, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik fisik maupun nonfisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar siswa.

3.Manfaat psikologi pendidikan adalah untuk memecahkan masalah-masalah psikologis yang terdapat dalam dunia pendidikan dengan menggunakan metode-metode yang telah disusun secara rapi dan sistematis.

4.Teori perkembangan manusia memberikan implikasi positif dalam ruang pembelajaran. Dengan memahaminya, guru dapat meramu menu pembelajaran sesuai dengan usia perkembangan siswanya sehingga pendidikan tidak kehilangan arah. Perkembangan tersebut meliputi perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan perkembangan sosioemosional.

5.Dalam proses pembelajaran di kelas, seorang guru akan berinteraksi bersama siswa-siswa dengan beragam perbedaan: perbedaan karakteristik, inteligensi, gaya belajar, kultur, status sosioekonomi, etnis, gender dan perbedaan-perbedaan lain yang tak terelakkan. Namun menghadapi semua perbedaan di atas, seorang guru dituntut untuk tetap menjalankan tugasnya secara profesional dengan memberdayakan keberagaman tersebut sebagai sumber belajar.

6.Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai director (perancang), manager (pengelola) dan evaluator (penilai) hasil belajar.

Daftar Pustaka
Amstrong, Thomas. 2011. The Best Schools. Mizan Pustaka. Bandung.
Amstrong, Thomas. 2013. Kecerdasan Multipel di dalam Kelas. Indeks. Jakarta.
Gardner, Howard. 2013. Multiple Intelligences. Daras Books. Jakarta.
Hergenhahn dan Olson. 2008. Theories of Leraning. Kencana Prenada. Jakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1991. Balai Pustaka. Jakarta.
Muhibbin, Syah. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Munif, Chatib. 2012. Sekolahnya Manusia. Mizan Pustaka. Bandung.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada. Jakarta.
Santrock, J.W. 2008. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Kencana Prenada. Jakarta.

Pahlawan Tanpa Lencana

Seiring embun pagi menyejukkan hari

Seiring sang mentari menghangatkan bumi

Kau tapakkan langkah muliamu

Penuh semangat menggebu

Kau sapa sosok penuh harap itu

Kau tebarkan senyum dari kalbu

‘Tuk bangkitkan semangat para penuntut ilmu

Demi kejayaan negeri kebanggaanmu

Kata penuh warna mengalun

Bak mata air yang tak pernah pupus

Menginspirasi……

Menancapkan cita-cita mulia anak negeri

Hari demi hari kau lalui

Penuh cerita warna-warni

Ada tawa dan canda

Kadang duka menerpa

Tanpa puja puji

Tanpa lencana

Tanpa riuh penghargaan

Tanpa imbalan  materi yang berarti

Penuh kebersahajaan

Di tengah gemerlap dunia penuh fatamorgana

 

Kau tetap kokoh

Bagai batu karang di tengah lautan

Lantang kau suarakan

“Aku kan terus mengabdi…..

Pada dunia pendidikan ini

Hingga terlahir kembali

Generasi emas penyelamat negeri

Guru….

Kaulah sosok itu…..

Sosok mulia…..

Pahlawan tanpa lencana

#idae aya sophia#

20 Nopember 2014

Ku Ingin Jadi Guru Terbaik Anakku

Salam Peduli Generasi, ayah bunda semua…..

Hari ini sy ingin berbagi pengalaman saya dan suami tercinta ttg konsep pengasuhan dan pendidikan yg kami pilih tuk akbar dan arsyad, jagoans yg dikaruniakn oleh Allah SWT kpd kami….

Akbar adl buah hati pertama kami, maka sejak awal kami berupaya serius menyiapknnya agar mjd jembatan kami ke surga.
Maka saat akbar masuk usia 2 thn, usia memulai stimulasi tuk gabung di komunitas, suami meminta sy resign dulu dari ngurusi mahasiswa dan buka PAUD sbg tempat akbar belajar. Alasan suami, saya bisa desain sendiri kurikulumnya dan memantaunya.
Saat akbar usia 5 thn, kami mulai serius cari ilmu ttg sekolah yg pas utk usia 6-12 thn. Kami memutuskn bahwa SD akbar musti boardingschool tahfidz dan SMP baru bersama kami.
Kami searching, nanya ke para senior yg kami pandang layak sbg tempat berguru, bahkan suami banyak diskusi dg para kyai sambil silaturahmi dan diskusi ttg dakwah….tentang sekolah tahfidz terbaik di negeri ini.
Latar belakang suami yg digembleng 3 tahun di SMA Taruna Nusantara dan halqoh di HT yg senantiasa menggugah kesadaran ttg kondisi umat membuat kami punya idealisme…..idealisme bahwa anak2 kita musti didesain mjd generasi terbaik berjiwa pemimpin. Maka, mencari lembaga pendidikan yg pas utk SD akbar mjd tidak mudah.
Akhirnya, melalui pencarian panjang…..kami pilih Ponpes tahfidz anak Arwaniyah di Kudus.
Rencana ini kami sampaikn ke akbar. Hingga saat masih di TK B, kalo ditanya akbar mau sekolah di mana…dia jawab mau di Kudus dan nanti besar mau kuliah jurusan aeronetika di Jerman biar bisa jd perancang pesawat pejuang Islam.
Dua bulan sebelum lulus TK, sy daftarkn ke ponpes Arwaniyah dg mantap. Pilihan ini krn banyak success story, ponpes ini menghasilkn hafidz cilik dan sekolah akademiknya pun mjd percontohan.
Satu minggu sebelum tes seleksi masuk, akbar diminta hafalkn QS Al Ma’arij oleh panitia PSB.
Dan hari-H tes seleksi pun tiba. Sampai di lokasi….subhanallah….ramai sekali. Calon siswanya dari sabang sampai merauke kayaknya ada dech….bahkan ada calon siswa dari Malaysia. Anak2 harus kami lepas bersama panitia, ndak tahu saia bagaimana model tesnya krn gak bisa ngintip. Prosesnya rapi…ini nambah keyakinan saya bahwa jika Allah ijinkn akbar belajar di sini, maka ini bagian dari ikhtiar terbaik kami sbg ortu memberikan pendidikan yg terbaik.
Yg lebih berkesan adl nasehat dari Pak Kyai tuk para ortu sambil menunggu hasil seleksi, kurang lebih intinya begini:
“Hafal Al Qur’an adl rejeki dari Allah SWT. Jika tidak diterima, jangan ortu memaksakn diri. Bukan berarti anak2 tidak mampu, tp ada tempat yg lebih pas utk anak2. Jangan ambisi ortu yg mendominasi dlm mndidik anak2, yg penting anak2 cinta Al Qur’an.”

Berikut proses seleksinya yg bertahap, bun…..
Tahap pertama kemandirian dan kemampuan menghafal ayat yg dikasih H-7. Bagi yg lulus, langsung karantina dua bulan nggak boleh ditengok. Lulus karantina, percobaan dulu 1 tahun. Baru keputusan lanjut tidak. Dan meskipun kuotanya utk 45 anak, namun yg diterima tidak mesti 45. Yg memenuhi standar kelayakan saja.
Saya kaget juga….deg….kalo akbar lulus berarti saya pulang sendirian ke Tangerang.
Ternyata….akbar lulus dan harus karantina dua bulan. Sore harinya sy tinggalkn Akbar, dia malah lambaikn tangan sambil senyum. Sy pulang sambil berurai air mata sepanjang perjalanan.

Dua bulan berikutnya…..
Hari yang ditunggu tiba. Sy dan suami berangkat ke Kudus dg kerinduan yg menggebu. Ketemu akbar…..Subhanallah….dia dah lancar baca Al Qur’an dan murojaah hafalannya.
Alhamdulillah…..akbar lulus dan karantina lagi 1 tahun.

Selama karantina 1 thn ini sambil sekolah SD kelas 1…..ortu wajib datang 1 kali per bulan di hari yg ditentukan. Konsultasi dg guru akademik, murobbi (yg mndampingi sehari-hari) dan ustadz liqo’ (yg tanggung jawab tahfidz). Hari Jum’at boleh telpon.
Hari-hari tanpa akbar…..di setiap doa saya menangis….mndoakn akbar agar dimudahkan belajarnya dan kami dikuatkn utk ikhlas. Tiap bulan saya nengok…..memantau perkembangannya. Ada kebanggaan menyimak hafalan akbar yg dimulai dari menghafal Juz 1.
Tapi sy tidak bisa tutup nurani, ada kerinduan juga dari akbar. Laporan akademik dan hafalannya bagus, namun murobbinya sampaikn kalo akbar pendiam, banyak main sendiri. Sy sempat kaget krn saat di rumah, akbar itu banyak bicara. Bahkan teman2 kerja juga halqoh ayahnya komentar bahwa akbar itu meski anak2 tp nyambung kalo bicara ma orang dewasa.
Kalau sy tanya, akbar betah tidak? Dia jawab: betah. Berjalanlah pendidikan akbar dari bulan satu ke bulan berikutnya. Hingga suatu hari pas jdwl nengok (sy lupa bulan ke brp)…..Akbar cerita ttg hantu, raksasa, dan cerita2 kurafat. Didongengin Ustadz katanya. Dan kemampuan bahasa Akbar sepertinya ada masalah. Akbar rada gagap bicaranya. Dia jg cerita kalau temannya dipukul Ustadz Liqo’ krn gak hafal2. Bulan berikutnya sy bawakan banyak buku2 cerita Islami yg edukatif ke pesantren. Saya terus pantau perkembangan Akbar. Hingga genap satu semester, bulan ke-6 special krn ayahnya ikut nengok bareng saya. Akbar sudah hafal 2 juz…..kebahagiaan tersendiri kalau target mendidik anak hanya melihat hasil tahfidz semata tanpa menelisik prosesnya. Namun hari itu….melihat kondisi fisik akbar yg sakit kulit, kurus, cekung matanya…..nurani kami sbg ortu kembali terusik. Bicaranya masih rada gagap. Ayahnya sempat nanya: Mas akbar betah tidak? Dia jawab: Betah, ayah…..
Tapi kami mesti memutuskan, ada ketakutan kami dzolim thd Akbar dan kami tidak mampu mempertanggungjawabknnya di hadapan Allah. Akhirnya kami mohon ijin utk membawa pulang Akbar dan mendampinginya di usia pra balighnya.

Hari-hari Akbar di rumah……ayahnya terlibat aktif dlm pengasuhan dan pendidikan Akbar, dan kini sudah ada adiknya….Arsyad.

💥💥💥
Bagi saya, bisa menyapa anak2 saat mereka bangun tidur adl nikmat yg luar biasa
Bisa memeluk mereka dan membisikkn kata-kata penyemangat saat mereka mengadukn sikap teman yg kurang pas adl nikmat luar biasa
Bisa sholat berjamaah kmdn mendhohirkn doa utk mereka dan mereka mendengarnya kmdn meng-amin-kan adl nikmat luar biasa
Bisa makan bersama mereka sambil menanamkn rasa syukur atas nikmat Allah adl nikmat luar biasa
Dan sepertinya……sy tidak akan rela peran tsb tergantikn oleh pihak lain
Maka bismillah….saya akan berupaya melayakkn diri utk tetap bisa mndampingi mereka
Karena akan ada masanya, mereka musti melanglang buana
Karena akan ada masanya, mereka hidup bersama keluarga baru mereka……

Jangan Sekolahkan Kebodohan Anak Anda

“Dan sungguh Kami telah ciptakan manusia dalam sebaik- baik rupa” (QS At Tiin)

Ayat di atas mengabarkan bahwa Allah SWT tidaklah main-main saat menciptakan manusia shg tidak ada produk yang gagal. Semua manusia dilahirkan lengkap dengan kelebihannya masing-masing. Pun demikian dengan anak-anak kita. Paradigma tersebut mesti lekat di benak kita sebagai orang tua.
Maka, mengapa kita masih sibuk dengan kelemahan anak-anak kita? Bukankah tak ada manusia yang sempurna? Hanya Allah Sang Pemilik Kesempurnaan. Mari ayah bunda….kita bersama-sama men-fokuskan teropong kita kepada kekuatan anak-anak kita lalu kkita asah terus kekuatan tersebut. Maka sisi kekurangan mereka akan tereduksi dengan sendirinya. Tak gampang memang, tapi kita bisa. Karena ini demi masa depan anak-anak kita. Bayangkan andai setiap saat anak-anak kita ditampakkan sisi kelemahannya: di sekolah, di rumah juga di lingkungan…..mereka akan menyembunyikan badan mereka bak kura-kura terancam bahaya. Mereka akan takut mencoba karena malu dicaci dan dipojokkan. Dan mungkin relung hati mereka akan teriak: “Tuhan….mengapa Kau tak sayang padaku? Bukankah Engkau Maha Pengasih dan Penyayang?” Nah lhoo….mampukah kita bertanggung jawab kelak di akherat?
Tetapi…jika kita fokus pada kehebatan mereka dan terus membantu mengasahnya, mereka akan tampil sebaga pribadi yang penuh percaya diri dan senantiasa bersyukur. Mereka akan melangkah mantap tanpa takut salah, terus berkarya dan mengeksplorasi dunia. Dan..lisan mereka tak kan lupa mengalunkan doa indah untuk kita: “Ya Rabbana, jagalah selalu ayah bundaku sebagaimana mereka menjagaku. Layakkan mereka menikmati keindahan surga Mu.”
Ayah bunda, pilihan ada di tangan kita. Tapi tentunya kita tidak akan gegabah. Yukk….kita bersama-sama menjadi orang tua bijak yang tidak palsu kasih sayangnya. Fokus pada kehebatan anak-anak kita dan STOP menyekolahkan kebodohan mereka.

#Tulisan sore sambil menunggu dua jagoanku asyik bermain#