Menyikapi Televisi Secara Cerdas

MENYIKAPI TELEVISI SECARA CERDAS
Oleh : Wakhida Nurhayati, S.TP
(Kepala PG-TK Islam Plus Aya Sophia)

Duuh…..pusing, saya nggak tahu lagi harus berbuat apa kepada anak saya, Bu…..Anak saya sudah keranjingan TV. Kalau sudah di depan TV, dia lupa segalanya. Pernah remote TV saya umpetin, eeee….anak saya marah, dia ngambek dan ngancam nggak mau sekolah………….

Keluhan di atas terlontar dari seorang ibu saat datang berkonsultasi tentang perilaku anaknya, Faisal (7 tahun) yang sufi (-suka tv-). Keluhan seperti ini bukan yang pertama kali saya dengar. Memang menjadi dilema bagi orang tua untuk bersikap tentang si kecil ajaib (-TV-red) yang dipastikan saat ini ada di setiap rumah dan menjadi sahabat anak-anak. Dari satu sisi, televisi diperlukan sebagai salah satu sumber informasi aktual, tapi disisi lain membawa dampak negative bagi anak karena tontonannya banyak yang tidak mendidik.
Saya sendiri tidak anti televisi. Dulu, saya pernah menjadi penggemar sinetron. Namun setelah banyak dan terus belajar tentang pengaruh televisi bagi perkembangan anak-anak, saya menjadi tersadar. Saya tidak mau anak-anak saya menjadi korban tayangan si kecil ajaib. Saya sebut televisi ini si kecil ajaib karena mampu menyulap perilaku anak-anak dan dijadikan idola oleh anak-anak. Akhirnya saya bertekad untuk berubah, dan alhamdulillah saya bisa berubah. Saya yakin, kalau kita mau berubah, tidak ada yang tidak mungkin, tentunya “dengan ijin Allah SWT.”
Sebagai orang tua yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT tentang anak-anak, tentunya kita ingin semua sarana yang kita sediakan berdampak positif terhadap anak, termasuk televisi. Apa yang seharusnya kita lakukan terkait televisi? Berikut saya mencoba berbagi tentang trik-trinya.
Pertama, menanamkan kesadaran kepada anak-anak tentang dampak negative televisi. Memang langkah ini tidak mudah. Mungkin akan lebih mudah jika kita bersikap otoriter, melarang secara tegas anak-anak menonton televisi. Namun, saya memilih menghindari sikap otoriter. Saya ingin anak-anak saya memilik kesadaran untuk memilih yang terbaik bagi diri mereka. Apa yang mereka lakukan hari ini akan berdampak pada diri mereka di masa yang akan datang. Saya sering menyampaikan kepada anak-anak, bahwa mereka harus bersikap sebagai “pengamat” bukan “penikmat” televisi.
Kedua, membuat aturan bersama. Hal yang sangat penting untuk kita lakukan adalah mengajak anak-anak beserta seluruh anggota keluarga untuk membuat aturan bersama, berapa jam boleh menonton TV dalam sehari, kapan saja waktu untuk menonton TV dan tayangan seperti apa yang boleh ditonton. Jangan ketinggalan, diskusikan pula apa punish dan reward nya. Dalam keluarga saya, kami menyepakati bahwa anak-anak boleh menonton TV paling lama 2 jam sehari dan tidak boleh berturut-turut (paling lama satu sessi adalah 1 jam); saat-saat sholat TV tidak boleh nyala dan waktu menonton TV untuk anak-anak adalah setelah mandi sore dan sholat ashar kecuali hari libur. Alhamdulillah, anak saya sudah terbiasa otomatis mematikan TV bila mendengar kumandang adzan dan bertanya apakah tayangan yang sedang dia tonton baik atau tidak. Membuat batasan seperti ini sangatlah penting. Milton Chen dalam bukunya yang berjudul The Smart Parents Guide to KIDS TV, menunjukkan bahwa waktu menonton TV yang sehat berkisar 8-10 jam seminggu. Dengan kata lain, menonton TV sebaiknya pada rentang 1 jam 9 menit sampai dengan 1 jam 25 menit. Ini dengan catatan bahwa tayangannya sehat. Jika tayangannya benar-benar mendidik dan merangsang daya nalar anak, mereka bisa menonton maksimal 15 jam seminggu. Lebih dari itu sudah tidak sehat. Yang lebih menarik, dalam bukunya Milton Chen juga menunjukkan hasil-hasil penelitian bagaimana tayangan kekerasan merangsang agresivitas anak, bagaimana TV mampu menumpulkan perasaan dan kasih sayang kepada orang lain dan bagaimana TV telah merampas waktu anak yang paling berharga.
Ketiga, ciptakan suasana keterbukaan di keluarga. Anak-anak membutuhkan sosok yang mereka nyaman untuk curhat. Pastikan bahwa sosok tersebut adalah kita, ayah bundanya. Memang, anak-anak adalah amanah bagi kita, tapi bukan berarti 24 jam kita harus ada di samping mereka. Jika suasana keterbukaan sudah tercipta di keluarga, kita akan mampu menggali apa saja yang dialami anak saat mereka tidak bersama kita. Saya biasa bertanya kepada anak saya tentang apa yang mereka lakukan dan rasakan saat di sekolah atau apa yang mereka kerjakan saat saya tidak ada di rumah. Alhamdulillah, anak saya kadang malah spontan bercerita tentang pengalamannya atau bercerita tentang isi tayangan TV yang dia tonton. Sebaliknya, saya dan suami juga biasa berbagi cerita tentang apa yang kami alami kepada anak-anak. Dengan langkah ini, saya bisa mengontrol kondisi anak saya, termasuk sejauh mana tayangan TV yang ditonton anak saya.
Keempat, carikan pengganti TV yang tidak kalah menarik. Tentu sangat tidak bijak bila kita melarang anak menonton TV tetapi tidak menawarkan solusinya. Sebagai pengganti diet TV yang ketat, saya menyiapkan aneka CD kartun dan CD edukatif yang kreatif, menarik dan sarat dengan pesan-pesan moral. CD berbeda dengan TV karena tidak ada iklan yang sulit kita kontrol. Kita bisa memilih lebih leluasa sesuai dengan kebutuhan, yang tidak cocok tidak perlu kita beli. Untuk lebih ekonomis, saya juga daftarkan anak saya sebagai member di Ultra Disk (rental CD) sehingga tidak semua CD menarik harus dimiliki. Memang ini membutuhkan anggaran yang lebih, tetapi kita mesti ingat bahwa anak adalah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan kelak. Namun, meskipun nonton CD bisa sebagai pengganti, saya tetap berusaha bahwa ini adalah alternatif terakhir dari serangkaian aktivitas anak. Saya lebih mengarahkan agar anak saya senang membaca sehingga saya juga menyediakan beragam buku cerita untuk anak dan meluangkan waktu untuk sering main ke toko buku bersama anak.
Kelima, bersikap komitmen dan menjadi teladan. Keteladanan merupakan sarana pendidikan yang sangat efektif bagi anak. Semua hal di atas akan menjadi sia-sia apabila kita sebagai orang tua tidak komitmen dan tidak mampu menjadi teladan. Anak-anak adalah peniru ulung, mereka banyak belajar dari orang-orang di sekelilingnya. Kita melarang anak menonton TV sampai mulut berbusa-busa tidak ada artinya bila anak-anak sering menyaksikan kita bersantai atau melelas lelah di depan TV. Setumpuk aturan yang kita desain dengan indah dan kita pajang di ruang keluarga juga tidak bermanfaat bila kita tidak komitmen dengan aturan tersebut. Maka, marilah kita sebagai orang tua bersegera menjadi teladan pertama dan utama bagi anak-anak kita.
Keenam, mensinkronkan antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah. Sekolah merupakan lingkungan kedua bagi anak setelah rumah, sehingga sangat berperan dalam membentuk kepribadian anak. Maka, orang tua harus cerdas dan bijak dalam memilih sekolah bagi anak-anaknya. Dalam memilih sekolah, hendaknya orang tua tidak hanya berorientasi pada bangunan fisik dan fasilitas sekolah. Yang lebih penting adalah memilih sekolah yang pola pendidikannya sejalan dengan pola pendidikan yang kita terapkan di rumah.
Mudah-mudahan trik di atas bermanfaat. Awali denga tekad yang kuat, laa haula walaa quwwata illa billah. Menjadi orang tua adalah nikmat, mari kita syukuri dengan menjadikannya sebagai ladang pahala. Kita akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan upaya kita, karena Allah SWT menilai proses, bukan sekedar hasil yang kita capai. Wallahu a’lam bi showab. [bundaida.wordpress.com].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s