Menerapkan Disiplin dengan Kasih Sayang

Melalui disiplin, anak akan mandiri , percaya diri dan menjadi pribadi yang peka serta peduli pada orang lain……..”

Disiplin merupakan salah satu kebiasaan yang perlu ditumbuhkan di setiap tahapan usia anak, karena kebiasaan teratur akan menjadikan perasaan  lebih nyaman.  Mendisiplinkan anak bukan semata-mata agar anak disiplin dalam waktu, melainkan juga berdampak pada hal-hal lain dalam kehidupan seperti kemampuan untuk mengatur diri, kemampuan membedakan yang baik dan buruk, kemampuan menyesuaikan diri dengan aturan di lingkungan serta kemampuan menghargai orang lain.  Sebagai contoh, jika anak bisa duduk tenang di kelas, maka dia tidak akan mengganggu teman-temannya.  Jika anak teratur, dia bisa menghargai kepentingan orang lain.  Dia tahu, sebagaimana dirinya tak mau diganggu oleh temannya, maka ia pun tidak akan mengganggu temannya.  Disiplin memberikan pelajaran kepada anak tentang bagaimana bertingkah laku yang seharusnya.  Anak akan berlatih untuk berpikir dulu sebelum bertindak.  Jadi, melalui disiplin anak akan mandiri dan percaya diri, menjadi pribadi yang peka serta peduli pada orang lain.

Namun, dalam menerapkan disiplin hendaknya orang tua atau guru tidak bersikap otoriter, seolah-olah anak adalah robot kecil yang harus siap melakukan apa pun yang dikehendaki orang tua atau guru.  Anak harus tetap diberi kesempatan berpartisipasi dan orang tua serta guru semestinya bersikap “hangat” dengan berorientasi pada kepentingan anak.  Anak-anak tetap membutuhkan cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya.  Hal ini bukan berarti orang tua atau guru boleh bersikap permisif, yakni membolehkan apa saja yang dilakukan anak karena sikap permisif tersebut akan membuat anak tidak bertanggung jawab, agresif, manja, mementingkan diri sendiri serta tergantung pada orang lain.  Berikut beberapa kiat untuk menerapkan disiplin tetapi tetap penuh rasa kasih sayang:

1.       Membuat aturan bersama

Anak-anak semestinya mendapatkan konsep diri (self esteem) yang positif dari lingkungannya.  Dengan dilibatkan dalam membuat aturan, dapat membantu meningkatkan rasa mampu pada dirinya dan mengembangkan tanggung jawab atas disiplin pada dirinya.

2.       Memberi  batas-batas yang jelas

Hal ini memberikan kesempatan pada anak untuk membedakan  mana yang benar dan mana yang salah, mana yang patut dan mana yang tidak patut, kapan dan bagaimana sesuatu itu dikerjakan.  Batasan waktu juga penting diberikan, misalnya jika anak ingin bermain bersama temannya, tentukan dari jam berapa sampai jam berapa dia boleh bermain.

3.       Menetapkan sanksi dan ganjaran (punish and reward) yang jelas

Pemberian sanksi jika terjadi pelanggaran penting untuk ditetapkan di awal dan anak dilibatkan.  Demikian pula ganjarannya jika anak mematuhi aturan.  Orang tua dan guru perlu menjelaskan manfaat disiplin bagi anak dan bagi orang lain. Jika terjadi pelanggaran, berikan konsekuensi sanksinya segera.  Tetapi orang tua dan guru perlu mempertimbangkan bentuk sanksi agar tidak terlalu berat dan tetap berdampak positif bagi anak.  Misalnya, bagi anak yang gemar nonton tv maka larangan menonton tv akan menjadi hukuman yang efektif dan tetap berdampak positif.

4.       Konsisten namun fleksibel

Bersikap konsisten merupakan sarana penegakan disiplin yang jauh efektif dibandingkan hukuman yang berat.  Orang tua dan guru perlu mengupayakan adanya kesepakatan dengan anak untuk saling mematuhi apa yang telah ditetapkan.  Kerja sama yang baik dan kesamaan pandangan juga perlu dibangun diantara seluruh anggota keluarga maupun sekolah.  Jadi, ayah dan ibu harus kompak dalam menerapkan disiplin ini serta memberikan teladan yang nyata bagi anak, demikian pula dengan guru-guru di sekolah.

5.       Komunikasi yang efektif

Banyak permasalahan yang berhubungan dengan disiplin dapat diselesaikan melalui komunikasi timbale balik yang efektif antara anak dan orang tua atau guru.  Hindari komunikasi dalam bentuk sindiran, hinaan dan merendahkan harga diri anak karena hal ini akan membuat anak tidak percaya diri dan cenderung menirunya saat berhubungan dengan orang lain.

6.       Disiplin yang berkelanjutan

Disiplin merupakan proses berkelanjutan dan perlu dilakukan oleh siapa saja termasuk orang tua dan guru.  Maka, penerapan disiplin semestinya juga bertahap dan berkelanjutan, sejak usia dini hingga usia-usia berikutnya. (WN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s