Usia Dini, “The Golden Age” Si Buah Hati

Pengertian Anak Usia Dini

                  Usia dini adalah usia pada rentang 0-8 tahun.  Usia dini merupakan usia di mana anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), intelgensi (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), social emosi (sikap dan perilaku), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang sedang dilaluinya (Hidayat dan Imroni, 2004).  Usia dini merupakan bagian dari masa kanak-kanak.  Papalia dan Old (1987) membagi masa kanak-kanak dalam lima tahap, yakni:

  • Masa prenatal, yaitu diawali dari masa konsepsi sampai masa lahir.
  • Masa bayi dan tatih, yaitu saat usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan sampai tiga tahun merupakan masa tatih. 
  • Masa kanak-kanak pertama, yaitu rentang usia 3-6 tahun atau disebut masa prasekolah.
  • Masa kanak-kanak kedua, yaitu usia 6-12 tahun atau masa sekolah.
  • Masa remaja, yaitu usia 12-18 tahun.

                  Usia 3-6 tahun lazim disebut usia pra sekolah, yaitu usia di mana anak belum memasuki lembaga pendidikan formal atau Sekolah Dasar (SD).   Pada usia ini, biasanya mereka mengikuti kegiatan dalam lembaga pendidikan pra sekolah seperti Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, atau Taman Penitipan Anak.  Lembaga pendidikan pra sekolah ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan anak untuk memasuki usia sekolah baik dari sisi social, intelektual maupun emosional.

Perkembangan Anak Usia Dini

                  Usia dini memiliki cirri perkembangan yang unik.  Teori Piaget (dikutip oleh Singer dan Revenson, 1978) menyebutkan bahwa terdapat beberapa tahap perkembangan kognitif anak, yaitu tahap:

  1. Senso motorik (dari lahir hingga usia 2 tahun)
  2. Pra operasional (dari 2 hingga 7 tahun)
  3. Operasi konkret (dari 7 hingga 11 tahun)
  4. Operasi formal (dari 11 hingga 16 tahun)

                  Mengacu pada batasan di atas, maka subyek dalam penelitian ini yaitu usia pra sekolah masuk dalam tahap pra operasional, di mana pada tahap ini secara umum anak belum dapat dituntut berpikir logis.   Dengan berkembangnya kemampuan bahasa, anak menjadi lebih mampu mempresentasikan dunianya melalui kesan mental dan simbol.   Namun pada tahap ini, simbol sangat tergantung pada  persepsi dan intuisinya sendiri (Singer dan Revenson, 1978).

                  Anak mulai dapat membuat sesuatu, simbol mental, kata atau obyek yang mewakili sesuatu hal lain yang saat itu tidak ada di hadapannya.  Misalnya menggunakan kata ‘sepeda’ ketika secara fisik tidak ada sepeda di depannya  (Ginsburg dan Opper, 1979).

                  Anak pada tahap ini sangat egosentris.  Ia mulai menaruh minat pada hal-hal di luar dirinya, namun ia hanya melihatnya dari sudut pandang ia sendiri.  Tahapan ini juga disebut usia ‘serba ingin tahu’ di mana mereka selalu bertanya dan menyelidiki segala hal yang ada di sekitarnya.  Namun karena pengalaman anak terbatas, mereka cenderung membuat penjelasan-penjelasan sendiri.  Seringkali anak membuang sebagian dari cerita, meskipun mereka masih mengingatnya dengan baik.  Hal ini dilakukan seolah-olah orang lain sudah memahami apa yang dimaksudkannya.

                  Melihat pada ciri perkembangan anak usia pra sekolah, maka diperlukan pemahaman dan upaya pendekatan khusus.  Artinya, pemberian stimulasi terhadap mereka harus dilakukan secara sederhana dan konkret, tidak melalui konsep-konsep yang abstrak serta mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan mereka dengan upaya pendekatan yang penuh pengertian.

Pembelajaran Anak Usia Dini

Proses pembelajaran bagi anak  usia dini adalah proses interaksi antara anak, sumber belajar dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu.  Keberhasilan proses pembelajaran ini ditandai dengan tercapainya pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan dengan hasil yang mampu menjembatani anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan berikutnya. Untuk mencapai keberhasilan, maka pembelajaran pada anak usia dini harus dilaksanakan sesuai dengan tahap perkembangannya.  Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 Diknas, maka pembelajaran bagi anak usia dini dilakukan atas pendekatan sebagai berikut:

1.  Berorientasi pada kebutuhan anak

Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini harus senantiasa berorientasi pada kebutuhan anak untuk mendapatkan layanan pendidikan, kesehatan dan gizi yang dilaksanakan secara integrative dan holistic.

2.  Belajar melalui bermain

Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan proses pendidikan anak usia dini dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak.  Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.

3.  Kreatif dan inovatif

Proses kreatif dan inovatif dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis dan menemukan hal-hal baru.

4.  Lingkungan yang kondusif

Lingkungan harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan dengan tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain.

5.  Menggunakan pembelajaran terpadu

Model pembelajaran terpadu yang beranjak dari tema yang menarik anak (center of interest) dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak.  Keterpaduan disini meliputi:

  • Fragmented  (keterpaduan dari dua kegiatan atau lebih dalam satu kemampuan dasar yang sama).
  • Shared (keterpaduan dari dua kemampuan dasar yang berbeda).
  • Connected (keterpaduan dari hari yang lalu, hari ini dan yang akan datang dalam satu judul kegiatan yang sama).
  • Nested (keterpaduan dari satu kegiatan dengan nilai/pesan moral).
  • Secuence (keterpaduan dari beberapa kegiatan secara berjenjang).
  • Integrated (keterpaduan dari beberapa kegiatan dengan seluruh kompetensi dasar), akhlak perilaku, dengan mengacu pada satu pokok bahasan).
  • Spideer Web (keterpaduan dari beberapa kegiatan atau seluruh kompetensi dasar, akhlak perilaku dengan mengacu pada tema/sub tema yang sama).

6.  Mengembangkan ketrampilan hidup

Mengembangkan ketrampilan hidup melalui pembiasaan-pembiasaan agar mampu mandiri, disiplin, bersosialisasi dan memperoleh bekal ketrampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.

7.  Menggunakan berbagai media dan sumber belajar, baik dari lingkungan alam sekitar maupun bahan-bahan yang sengaja disiapkan.

8.  Stimulasi terpadu

Pada saat anak melakukan suatu kegiatan, anak dapat mengembangkan beberapa aspek pengembangan sekaligus, baik akhlak perilaku dan nilai agama, fisik, bahasa, kognitif, sosial emosional maupun seni.

One response to “Usia Dini, “The Golden Age” Si Buah Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s