Pengembangan Kecerdasan Jamak Melalui Pembelajaran Berbasis Knowledge Spiral

Anak usia dini menyimpan potensi multi talenta yang menurut Howard Gardner dengan Theory of Multiple Intelligence ada delapan jenis kecerdasan, yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan logika matematika, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis. Maka, pembelajaran pada anak usia dini semestinya dirancang agar mampu mengembangkan kecerdasan jamak ini.
Konsep Knowledge Spiral yang digagas oleh Ikujiro Nonaka dan Hirotake Takeuchi mampu mengembangkan pengetahuan secara sistematis dan berkesinambungan. Pengetahuan tidak hanya tersimpan dalam pikiran, tetapi mampu memberi inspirasi untuk melahirkan pengetahuan dalam bentuk karya yang bermanfaat bagi orang lain.
Permasalahan yang ditemui, pola pengajaran yang ada masih didominasi pada pengembangan kecerdasan linguistik dan logika matematika saja. Siswa yang menonjol dalam bidang linguistic dan matematika saja yang mendapatkan predikat sebagai anak cerdas. Akibatnya, siswa tidak teraktivasi kecerdasan jamaknya secara optimal.
Permasalahan di atas telah menggerakkan penulis untuk melakukan inovasi pembelajaran tentang Pengembangan Kecerdasan Jamak Anak Usia Dini Melalui Pembelajaran Berbasis Konsep “Knowledge Spiral” dan menuangkannya dalam karya tulis ini.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Anak usia dini memiliki potensi kecerdasan jamak yang harus dipahami dan dikembangkan oleh para pendidik PAUD.
2. Pembelajaran yang ada saat ini masih didominasi pada pengembangan kecerdasan linguistik dan matematika.
3. Konsep Knowledge Spiral mampu mengembangkan pengetahuan secara sistematis dan berkesinambungan.

C. Metode
Metode yang digunakan dalam penyusunan karya ilmiah ini adalah studi literatur.

D. Manfaat
Manfaat karya ilmiah ini secara teoritis diharapkan menjadi sumbangan berharga bagi pembelajaran anak usia dini khususnya dalam pengembangan kecerdasan jamak.
Sedangkan secara praktis, dapat dikembangkan dan diterapkan secara lebih luas pada lembaga-lembaga pendidikan usia dini baik yang berbentuk Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Tempat Penitipan Anak, Bina Keluarga dan Balita (BKB) maupun sanggar-sanggar kreativitas.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam karya ilmiah ini sebagai berikut:
Bab I. PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan latar belakang masalah, yaitu hal-hal yang mendasari penulisan karya ilmiah ini, kemudian perumusan dan batasan masalah yaitu pernyataan singkat mengenai inti permasalahan yang dibahas. Dicantumkan juga metode yang digunakan serta manfaat yang diharapkan.
Bab II. LANDASAN TEORI
Pada bab ini diuraikan landasan teori tentang perkembangan dan pembelajaran anak usia dini, kecerdasan jamak, konsep Knowledge Spiral dan penerapannya dalam pembelajaran anak usia dini.
Bab III. PROSEDUR PELAKSANAAN
Pada bab ini dijelaskan tentang gagasan penerapan konsep Knowledge Spiral dalam rangka mengembangkan kecerdasan jamak anak usia dini.
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi tentang kesimpulan dari karya ilmiah serta saran yang diberikan penulis berkaitan dengan perlunya pengkajian lebih lanjut.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Hakekat Anak Usia Dini
1. Pengertian Anak Usia Dini
Usia dini adalah usia pada rentang 0-8 tahun. Usia dini merupakan usia di mana anak dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), intelgensi (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosi (sikap dan perilaku), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang sedang dilaluinya (Hidayat dan Imroni, 2004) . Usia dini merupakan bagian dari masa kanak-kanak. Papalia dan Old pada tahun 1987 dalam Akbar dan Reni (2001) membagi masa kanak-kanak dalam lima tahap, yakni:
• Masa prenatal, yaitu diawali dari masa konsepsi sampai masa lahir.
• Masa bayi dan tatih, yaitu saat usia 18 bulan pertama kehidupan merupakan masa bayi, di atas usia 18 bulan sampai tiga tahun merupakan masa tatih.
• Masa kanak-kanak pertama, yaitu rentang usia 3-6 tahun atau disebut masa prasekolah.
• Masa kanak-kanak kedua, yaitu usia 6-12 tahun atau masa sekolah.
• Masa remaja, yaitu usia 12-18 tahun.
Usia 2-6 tahun lazim disebut usia pra sekolah, yaitu usia di mana anak belum memasuki lembaga pendidikan formal atau Sekolah Dasar (SD). Pada usia ini, biasanya mereka mengikuti kegiatan dalam lembaga pendidikan pra sekolah seperti Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, atau Taman Penitipan Anak. Lembaga pendidikan pra sekolah ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan anak untuk memasuki usia sekolah baik dari sisi social, intelektual maupun emosional.
2. Perkembangan Anak Usia Dini
Usia dini memiliki cirri perkembangan yang unik. Teori Piaget (dikutip oleh Singer dan Revenson, 1978) menyebutkan bahwa terdapat beberapa tahap perkembangan kognitif anak, yaitu tahap:
a. Senso motorik (dari lahir hingga usia 2 tahun)
b. Pra operasional (dari 2 hingga 7 tahun)
c. Operasi konkret (dari 7 hingga 11 tahun)
d. Operasi formal (dari 11 hingga 16 tahun)
Mengacu pada batasan di atas, maka subyek dalam penelitian ini yaitu usia pra sekolah masuk dalam tahap pra operasional, di mana pada tahap ini secara umum anak belum dapat dituntut berpikir logis. Dengan berkembangnya kemampuan bahasa, anak menjadi lebih mampu mempresentasikan dunianya melalui kesan mental dan simbol. Namun pada tahap ini, simbol sangat tergantung pada persepsi dan intuisinya sendiri (Singer dan Revenson, 1978) .
Anak mulai dapat membuat sesuatu, simbol mental, kata atau obyek yang mewakili sesuatu hal lain yang saat itu tidak ada di hadapannya. Misalnya menggunakan kata ‘sepeda’ ketika secara fisik tidak ada sepeda di depannya (Ginsburg dan Opper, 1979) .
Pada tahap ini anak sangat egosentris. Ia mulai menaruh minat pada hal-hal di luar dirinya, namun ia hanya melihatnya dari sudut pandang ia sendiri. Tahapan ini juga disebut usia “serba ingin tahu” di mana mereka selalu bertanya dan menyelidiki segala hal yang ada di sekitarnya. Namun karena pengalaman anak terbatas, mereka cenderung membuat penjelasan-penjelasan sendiri. Seringkali anak membuang sebagian dari cerita, meskipun mereka masih mengingatnya dengan baik. Hal ini dilakukan seolah-olah orang lain sudah memahami apa yang dimaksudkannya.
Melihat pada ciri perkembangan anak usia pra sekolah, maka diperlukan pemahaman dan upaya pendekatan khusus. Artinya, pemberian stimulasi terhadap mereka harus dilakukan secara sederhana dan konkret, tidak melalui konsep-konsep yang abstrak serta mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan mereka dengan upaya pendekatan yang penuh pengertian.
3. Pembelajaran pada Anak Usia Dini
Pembelajaran merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan suatu kegiatan. Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antara anak, sumber belajar dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu. Pembelajaran pada anak usia dini bersifat spesifik didasarkan pada tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak dengan mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, berbahasa, kognitif, fisik/motorik dan seni.
Keberhasilan proses pembelajaran ini ditandai dengan tercapainya pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan dengan hasil yang mampu menjembatani anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan berikutnya. Untuk mencapai keberhasilan, maka pembelajaran pada anak usia dini harus dilaksanakan sesuai dengan tahap perkembangannya. Hidayat dan Imroni (2004) menyatakan bahwa berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 Diknas, maka pembelajaran bagi anak usia dini dilakukan atas pendekatan sebagai berikut:
a. Berorientasi pada kebutuhan anak
Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini harus senantiasa berorientasi pada kebutuhan anak untuk mendapatkan layanan pendidikan, kesehatan dan gizi yang dilaksanakan secara integrative dan holistic.
b. Belajar melalui bermain
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan proses pendidikan anak usia dini dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.

c. Kreatif dan inovatif
Proses kreatif dan inovatif dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis dan menemukan hal-hal baru.
d. Lingkungan yang kondusif
Lingkungan harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan dengan tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain.
e. Menggunakan pembelajaran terpadu
Model pembelajaran terpadu yang beranjak dari tema yang menarik anak (center of interest) dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Keterpaduan disini meliputi:
• Fragmented (keterpaduan dari dua kegiatan atau lebih dalam satu kemampuan dasar yang sama).
• Shared (keterpaduan dari dua kemampuan dasar yang berbeda).
• Connected (keterpaduan dari hari yang lalu, hari ini dan yang akan datang dalam satu judul kegiatan yang sama).
• Nested (keterpaduan dari satu kegiatan dengan nilai/pesan moral).
• Secuence (keterpaduan dari beberapa kegiatan secara berjenjang).
• Integrated (keterpaduan dari beberapa kegiatan dengan seluruh kompetensi dasar), akhlak perilaku, dengan mengacu pada satu pokok bahasan).
• Spideer Web (keterpaduan dari beberapa kegiatan atau seluruh kompetensi dasar, akhlak perilaku dengan mengacu pada tema/sub tema yang sama).
f. Mengembangkan ketrampilan hidup
Mengembangkan ketrampilan hidup melalui pembiasaan-pembiasaan agar mampu mandiri, disiplin, bersosialisasi dan memperoleh bekal ketrampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.
g. Menggunakan berbagai media dan sumber belajar, baik dari lingkungan alam sekitar maupun bahan-bahan yang sengaja disiapkan.
h. Stimulasi terpadu
Pada saat anak melakukan suatu kegiatan, anak dapat mengembangkan beberapa aspek pengembangan sekaligus, baik akhlak perilaku dan nilai agama, fisik, bahasa, kognitif, sosial emosional maupun seni.

B. Kecerdasan Jamak (Multiple Intelligence)
Howard Gardner, Profesor Pendidikan di Harvard University telah melakukan penelitian tentang perkembangan kapasitas kognitif manusia. Gardner tidak memandang “kecerdasan” manusia berdasarkan skor tes standar semata, namun Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai berikut:
• Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia.
• Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan.
• Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.
Dalam bukunya Frames of Mind (1983) , Gardner menampilkan Theory of Multiple Intelligences dan mendeskripsikan delapan kecerdasan manusia sebagai berikut:
1. Linguistic intelligences (kecerdasan linguistik) adalah kemampuan untuk berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan serta menghargai makna yang kompleks. Para pengarang, penyair, jurnalis, pembicara dan penyiar berita memiliki tingkat kecerdasan linguistik yang tinggi.
2. Logical-mathematical intelligences (kecerdasan logika matematika) merupakan kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi-operasi matematis. Para ilmuwan, ahli matematika,akuntan, insinyur dan pemrogram computer, semuanya menunjukkan kecerdasan logika matematika yang kuat.
3. Spatial intelligences (kecerdasan spasial) membangkitkan kapasitas untuk berpikir dalam tiga cara dimensi seperti yang dapat dilakukan oleh pelaut, pilot, pemahat, pelukis dan arsitek. Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk merasakan bayangan eksternal dan internal, melukiskan kembali, merubah atau memodifikasi bayangan, mengemudikan diri sendiri dan objek melalui ruangan dan menghasilkan atau menguraikan informasi grafik.
4. Bodily-kinesthetic intelligences (kecerdasan kinestetik-tubuh) memungkinkan seseorang untuk menggerakkan objek dan ketrampilan-ketrampilan fisik yang halus. Jelas kelihatan pada diri atlet, penari, ahli bedah dan seniman yang mempunyai ketrampilan teknik.
5. Musical intelligences (kecerdasan musik) jelas kelihatan pada seseorang yang memiliki sensitivitas pada pola titinada, melodi, ritme dan nada. Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini antara lain composer, konduktor, musisi, kritikus dan pembuat alat musik.
6. Interpersonal intelligences (kecerdasan interpersonal) merupakan kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Hal ini terlihat pada guru, pekerja sosial, artis atau politisi.
7. Intrapersonal intelligences (kecerdasan intrapersonal) merupakan kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Ahli ilmu agama, ahli psikologi dan ahli filsafat adalah individu yang memiliki kecerdasan ini.
8. Naturalis intelligences (kecerdasan naturalis) adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, menggolongkan dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai di alam maupun lingkungan. Inti dari kecerdasan ini adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta. Para filatelis (kolektor perangko), pecinta alam dan pendaki gunung adalah individu yang memiliki kecerdasan ini.
Penerapan teori Gardner telah banyak dilakukan dan terbukti membantu keberhasilan proses pembelajaran. Dalam buku Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, Linda, C., Bruce dan Dee Dickinson (2007) telah berbagi pengalaman mereka dalam menerapkan teori Gardner di kelas. Linda Campbell, seorang guru sekolah publik yang telah menerapkan strategi pengajaran melibatkan tujuh kecerdasan di sekolah dasar dan sekolah menengah, menjelaskan bahwa untuk memahami Theory of Multiple Intelligence pada setiap personal, para guru harus mampu mengidentifikasi kekuatan kecerdasan siswanya sekarang dan kecerdasan mereka yang belum berkembang. Kemudian para guru harus menciptakan rencana pembelajaran untuk mengasah area potensi siswa yang tersembunyi.
Dee Dickinson, sebagai ketua jurusan seni bahasa, telah menciptakan lingkungan pembelajaran yang melibatkan semua kecerdasan. Ia berusaha menyajikan konteks pemahaman kesusatraan yang di setiap periode. Dan hasilnya, beberapa tahun kemudian ternyata para mahasiswanya masih mengingat pelajaran secara terperinci dan penuh antusias.
Bruce Campbell telah menerapkan teori Gardner pada sekolah dasar dan kelas berbagai usia. Hasilnya, penerapan ide-ide Gardner tidak hanya menghasilkan nilai yang lebih tinggi pada siswanya, tetapi juga peningkatan kemampuan siswa untuk menemukan area kekuatan mereka.
Di Indonesia, Adi W. Gunawan dengan Genius Learning Strategy-nya dan Munif Chatib dengan Multiple Intelligences Research-nya telah memberikan angin segar dalam dunia pendidikan. Gunawan (2004) telah merumuskan cara mengenali kekuatan kecerdasan yang dominan pada seseorang, yaitu dengan Kuis Multiple Intelligence kemudian memindahkan skornya ke dalam Roda Multiple Intelligence. Sementara Chatib (2009) dalam bukunya Sekolahnya Manusia telah memuat kisah para guru yang berhasil diberdayakan oleh Multiple Intelligences.
C. Konsep Knowledge Spiral
1. Pengertian Pengetahuan
Kehidupan manusia penuh dengan pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan pada manusia dimulai sejak manusia mengenal informasi, yaitu informasi mengenai apa yang sedang terjadi, apa yang telah dikatakan, bagaimana terjadinya atau apa yang sedang dipikirkan.
Budiman Pratomo (2004) menyatakan bahwa data adalah kumpulan fakta objektif mengenai sebuah kejadian. Sementara informasi adalah data yang telah diolah sehingga mengandung arti. Budiman juga mendefinisikan pengetahuan (knowledge) sebagai kebiaaan, keahlian/kepakaran, ketrampilan, pemahaman atau pengertian yang diperoleh dari pengalaman, latihan atau melalui proses belajar.
Menurut F.N. Teskey (1989) dalam tulisannya User Models and World Models for Data, Information and Knowledge menjelaskan bahwa data merupakan hasil pengamatan langsung terhadap suatu kejadian atau suatu keadaan. Data merupakan entitas yang dilengkapi dengan nilai tertentu. Informaasi merupakan kumpulan data yang terstruktur untuk memperlihatkan adanya hubungan antar entitas. Sedangkan pengetahuan merupakan model yang digunakan manusia untuk memahami dunia dan dapat berubah sejalan dengan perkembangan informasi yang dimiliki dalam pikirannya.
Sedangkan menurut Mike Powell (2003) dalam bukunya Information Management for Development Organizations, data adalah koleksi terstruktur dari kumpulan fakta (structured collection of quantitative facts). Informasi adalah data atau fakta yang memiliki arti (data or facts with meaning). Sedangkan pengetahuan merupakan hasil atau keluaran atau nilai dari informasi (producing significance or value from information).
Ikujiro Nonaka dan Hirotake Takeuchi (1995) dalam Lendy Widayana (2005) mengupas dengan indah fenomena pengetahuan. Pengetahuan (knowledge) manusia pada hakekatnya terbingkai menjadi dua: explicit knowledge dan tacit knowledge. Explicit knowledge adalah pengetahuan yang tertulis, terarsip, tersebar (cetak maupun elektronik) dan bisa sebagai bahan pembelajaran (reference) untuk orang lain. Sedangkan tacit knowledge merupakan pengetahuan yang berbentuk know-how, pengalaman, skill, pemahaman, maupun rules of thumb.
Jann Hidajat dan Donald Crestofel Lantu (2006) dalam bukunya Knowledge Management dalam Konteks Organisasi Pembelajar menjelaskan bahwa pengetahuan memiliki karakteristik:
a. Pengetahuan tersimpan dalam otak manusia, yang tersusun dari pengamatan maupun pengalaman di masa lalunya, berasal dari informasi yang ia rekam dan ia simpan dalam neuron-neuron di otaknya sebagaimana database pada sebuah memori komputer.
b. Orang yang memiliki pengetahuan adalah orang yang memiliki neuron aktif (berisi informasi dan sering digunakan saat proses berpikir) dalam jumlah banyak.
c. Pengetahuan manusia akan terbentuk jika struktur informasi yang dimiliki dalam neuron-neuronnya cukup untuk memahami makna akan sebuah masalah yang dihadapinya atau ia mampu membentuk model untuk memahami lingkup permasalahan.
d. Berpikir adalah suatu proses dalam membentuk pengetahuan yang ditentukan oleh struktur informasi yang dimilikinya.
Suatu pengetahuan untuk bisa menjadi “lebih hidup” dan bermanfaat secara luas harus melewati fase “pengubahan”, atau Ikujiro Nonaka dan Hirotake Takeuchi menyebutnya sebagai suatu dalam proses knowledge spiral atau spiralisasi pengetahuan.
2. Proses Spiralisasi Pengetahuan (Knowledge Spiral)
Menurut Ikujiro Nonaka dan Hirotake Takeuchi (1995) yang dikutip oleh Lendy Widayana (2005) , proses spiralisasi pengetahuan terbagi menjadi empat. Yang pertama adalah proses eksternalisasi (externalization), yaitu mengubah tacit knowledge yang kita miliki menjadi explicit knowledge. Bisa dengan menuliskan know-how dan pengalaman yang kita dapatkan dalam bentuk tulisan artikel atau bahkan buku apabila perlu. Dan tulisan-tulisan tersebut akan sangat bermanfaat bagi orang lain yang sedang memerlukannya.
Yang kedua adalah proses kombinasi (combination), yaitu memanfaatkan explicit knowledge yang ada untuk kita implementasikan menjadi explicit knowledge lain. Proses ini sangat berguna untuk meningkatkan skill dan produktifitas diri sendiri. Kita bisa menghubungkan dan mengkombinasikan explicit knowledge yang ada menjadi explicit knowledge baru yang lebih bermanfaat.
Yang ketiga adalah proses internalisasi (internalization), yakni mengubah explicit knowledge sebagai inspirasi datangnya tacit knowledge. Dari keempat proses yang ada, mungkin hanya internalisasi inilah yang telah kita lakukan. Bahasa lainnya adalah learning by doing. Dengan referensi dari manual dan buku yang ada, kita bisa mulai bekerja, dan menemukan pengalaman baru, pemahaman baru dan know-how baru yang mungkin tidak kita dapatkan dari buku tersebut.
Yang keempat adalah proses sosialisasi (socialization), yakni mengubah tacit knowledge ke tacit knowledge lain. Ini adalah hal yang juga sering kita lupakan. Kita tidak manfaatkan keberadaan kita pada suatu pekerjaan untuk belajar dari orang lain, yang mungkin lebih berpengalaman. Proses ini membuat pengetahuan kita terasah dan juga penting untuk peningkatan diri sendiri. Yang tentu saja ini nanti akan berputar pada proses pertama yaitu eksternalisasi. Semakin sukses kita menjalani proses perolehan tacit knowledge baru, semakin banyak explicit knowledge yang berhasil kita produksi pada proses eksternalisasi.

Gambar 1. Diagram Knowledge Spiral Nonaka dan Takeuchi

Prinsip dasar dari proses spiralisasi pengetahuan yaitu:
• menguraikan pengalaman dalam bentuk sebuah tulisan yang bisa dimengerti orang lain
• meningkatkan diri dengan belajar dari sumber lain untuk mengembangkan tulisan tersebut menjadi tulisan lain yang lebih berbobot.
• menikmati proses sebagai sebuah proses mematangkan diri.
• tidak melewatkan untuk belajar secara langsung dari orang lain yang lebih berpengalaman apabila ada kesempatan.
Hasil yang ingin kita dapatkan dari proses tersebut adalah bermunculannya pengetahuan-pengetahuan baru yang lebih berguna dalam perspektif bagi pemiliknya maupun juga untuk orang lain yang ingin memanfaatkannya.

3. Penerapan Knowledge Spiral dalam Pembelajaran Anak Usia Dini

Pembelajaran berbasis konsep Knowledge Spiral telah diterapkan di PAUD Aya Sophia tetapi baru terbatas dalam upaya meningkatkan kemampuan bercerita siswa dan menuangkan pengetahuan dalam bentuk tulisan/simbol. Nurhayati (2009) melaporkan bahwa konsep knowledge spiral yang diterapkan di PAUD Aya Sophia meliputi empat proses sebagai berikut:
• Proses eksternalisasi (externalization), yaitu siswa menuangkan pengetahuan dalam bentuk gambar atau tulisan.
• Proses kombinasi (combination), yaitu siswa mendapatkan informasi baru dari guru, melakukan pengamatan/praktek, memperkaya pengetahuan dengan membaca buku dan menonton CD.
• Proses internalisasi (internalization), yaitu mengubah informasi yang diterima menjadi pengetahuan.
• Proses sosialisasi (socialization), berdiskusi dan mengeluarkan kembali pengetahuannya secara lisan dengan bercerita.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa:
• Secara umum baik siswa mampu menyebutkan nama obyek secara lisan lebih banyak daripada melalui gambar/tulisan.
• Siswa mengalami peningkatan pengetahuan dan kemampuan mengeluarkan pengetahuannya baik melalui gambar/tulisan maupun lisan/bercerita. Ini bisa dilihat dari meningkatnya kemampuan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dibandingkan hasil pra uji.
• Siswa pada kelompok I memiliki kemampuan untuk mengeluarkan kembali pengetahuannya baik secara portofolio maupun lisan/bercerita lebih baik daripada siswa pada kelompok II. Ini menunjukkan bahwa penerapan konsep Knowledge Spiral sebagaimana yang dikemukakan oleh Ikujiro Nonaka dan Hirotake Takeuchi mampu menjadikan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia lebih hidup, dalam makna lebih bermanfaat. Dalam kasus penerapannya pada pembelajaran anak usia dini, terlihat bahwa anak-anak lebih memahami informasi dan lebih mampu menyampaikan pengetahuannya baik dalam bentuk gambar/tulisan maupun melalui lisan/bercerita. Hal ini lebih memudahkan guru dalam memantau perkembangan siswa.
• Dampak lain yang tampak berdasarkan hasil observasi yaitu bahwa ada perubahan perilaku sehari-hari baik dari sisi sosialisasi, kemandirian, pengamalan nilai-nilai akhlak mulia maupun kognitif.

BAB III
PROSEDUR PELAKSANAAN

A. Inovasi Pembelajaran
Proses spiralisasi pengetahuan (Knowledge Spiral) dapat dipadukan dengan konsep Multiple Intelligence dalam proses pembelajaran anak usia dini. Tentunya, tetap mengacu pada standar kurikulum PAUD yang tertuang dalam Permendiknas No. 58 tahun 2009. Agar berhasil mengaplikasikannya di kelas, guru perlu memahami Lingkaran Sukses Pembelajaran yang terdiri dari 8 langkah yaitu:
1. Suasana Kondusif
2. Hubungkan
3. Gambaran Besar
4. Tetapkan Tujuan
5. Pemasukan Informasi
6. Aktivasi
7. Demonstrasi
8. Ulangi
Agar mudah mengingatnya maka lingkaran sukses di atas dapat disingkat dengan istilah SuHu Gambar Tetap PADU. 1. Suasana Kondusif
Guru bertanggung jawab untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif sebagai persiapan masuk ke dalam proses pembelajaran yang sebenarnya. Kondisi yang kondusif ini merupakan syarat mutlak demi tercapainya hasil yang maksimal. Siswa harus terbebas dari rasa takut, tekanan psikologis dan dalam kondisi fisik yang nyaman dan mendukung. Untuk menciptakan kondisi awal yang kondusif, guru bisa menggunakan musik yang dikombinasikan dengan Brain Gym, menyambut siswa saat mereka masuk ke dalam kelas sambil tersenyum, menyalami siswa dengan antusias dan positif sambil menyebutkan namanya satu per satu dan senantiasa memberikan umpan balik positif yang mendidik.
2. Hubungkan
Guru perlu melakukan penghubungan antara apa yang akan dipelajari dan apa yang telah diketahui oleh siswa serta apa yang dapat dimanfaatkan oleh mereka dari informasi yang dipelajari. Cara yang paling mudah adalah dengan mengajukan pertanyaan. Proses ini akan sangat efektif dan kuat pengaruhnya bila berhasil melibatkan emosi. Jadi, usahakan untuk bisa melakukan aktivitas yang melibatkan siswa baik secara fisik maupun mental dan emosional.
3. Gambaran Besar
Guru perlu memberikan gambaran besar (big picture) dari keseluruhan materi. Memberikan gambaran besar ini berfungsi sebagai perintah kepada pikiran untuk menciptakan folder yang nantinya akan diisi dengan informasi. Gambaran besar ini sangat membantu. Prinsip kerjanya sama dengan fungsi gambar yang ada pada puzzle. Tentu akan sangat sulit dan membingungkan bila kita diminta menyusun 1000 keping puzzle tanpa diberi gambar besarnya. Dalam Knowledge Spiral, proses ini bisa dikategorikan sosialisasi.

4. Tetapkan Tujuan
Tahap ini merupakan tahap goal-setting. Hasil yang akan dicapai pada sesi akhir pembelajaran harus disampaikan kepada siswa baik secara langsung, per kelompok maupun secara pribadi. Dalam Knowledge Spiral, tahapan ini merupakan proses sosialisasi.
5. Pemasukan Informasi
Pada tahap ini, guru harus mampu menyampaikan informasi berupa materi yang dibahas dengan melibatkan berbagai gaya belajar. Metode penyampaian harus bisa mengakomodasi gaya belajar visual, auditori maupun kinestetik. Guru sebaiknya menggunakan strategi yang berbeda sesuai dengan situasi, misalnya membaca dengan cara dramatisasi atau menggunakan poster. Dalam knowledge Spiral, tahap ini merupakan proses internalisasi.
Gaya Belajar Visual Gaya Belajar Auditori Gaya Belajar Kinestetik
Gerakan tubuh/body language
Instruksi guru Keterlibatan fisik
Buku/majalah Suara yang jelas dengan intonasi terarah Field trip
Grafik, diagram Membaca dengan suara keras Membuat model
Peta pikiran/mind mapping Tanya jawab Main peran
OHP/computer Ceramah Brain Gym
Poster Diskusi dengan teman Highlighting
Kolase Role Play/main peran Menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu
Flowchart Musik
Highlighting (member warna pada bagian penting) Kerja kelompok
Tabel 1. Karakteristik Gaya Belajar V-A-K
6. Aktivasi
Proses aktivasi merupakan proses yang membawa siswa kepada satu tingkat pemahaman yang lebih dalam terhadap materi yang diajarkan. Proses ini bisa lebih meyakinkan guru bahwa siswa benar-benar telah memahami materi. Pada proses ini bisa diterapkan teori Multiple Intelligence dari Howard Gardner.
Gunawan (2004) dalam bukunya Genius Learning Strategy menyatakan bahwa proses aktivasi terbaik adalah bila siswa menggunakan kecerdasan dominannya, setelah itu baru mereka diminta mengakses kecerdasan lainnya. Idealnya, aktivasi dilakukan dengan mengakses delapan kecerdasan secara seimbang. Aktivasi bisa dilakukan dengan menggunakan aktivitas yang dilakukan seorang diri, secara berpasangan atau secara berkelompok untuk membangun kemampuan komunikasi dan kerja sama. Proses ini bersifat internalisasi. Siswa mengintegrasikan apa yang ia pelajari dan menemukan makna yang sesungguhnya dari apa yang ia pelajari. Tabel berikut ini bisa dijadikan acuan agar bisa mengakses delapan kecerdasan.

Tipe Kecerdasan Karakterikstik
Linguistik Menulis esai, pokok-pokok pikiran, kata-kata kunci, menulis laporan, menulis puisi, permainan kata.
Musikal Membuat irama/jingle
Spasial Flowchart/grafik, mind mapping, visual display, menggunakan warna, foto/gambar, video.
Logika Matematika Flowchart, garis waktu, analisis logis, kritik, permainan pola, rumusan, mengurutkan berdasarkan tingkat kepentingan.
Interpersonal Kerja kelompok, menjelaskan atau mengajar teman, memberikan dan menerima umpan balik, wawancara, berbagi dengan pasangan, permainan jigsaw dimana setiap anggota kelompok menemukan keeping jigsaw yang berisi sepotong informasi kemudian mereka bekerja sama mengumpulkan semua informasi.
Intrapersonal Perasaan, diari/jurnal, pemikiran pribadi, berpikir dengan tenang dan hening, menghubungkan pelajaran dengan pengalaman pribadi.
Kinestetik Mempraktekkan apa yang dipikirkan, eksperimen, gerakan tubuh, ilustrasi dengan menggunakan bahasa tubuh.
Natural Memelihara binatang, merawat tanaman.
Tabel 2. Kecerdasan jamak/Multiple Intelligence

7. Demonstrasi
Tahap ini merupakan evaluasi apakah siswa mengerti dengan materi yang telah dipelajari. Demontrasi meliputi praktek langsung dan mengerti aplikasi pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Agar pengetahuan yang telah dimiliki siswa dapat dinikmati oleh orang lain dan menjadi inspirasi, maka pada tahapan ini siswa diajak untuk membuat karya nyata. Dalam konsep Knowledge Spiral, tahapan ini disebut proses eksternalisasi.

8. Ulangi
Lakukan pengulangan pada akhir setiap sesi sekaligus membuat kesimpulan dari apa yang telah dipelajari. Ini bermanfaat untuk meningkatkan daya ingat dan meningkatkan efektivitas proses pembelajaran. Lakukan evaluasi dengan suasana yang menyenangkan dan bebas dari stress. Teknik yang bisa digunakan antara lain:
a. Lingkaran informasi
• Siswa membuat lingkaran.
• Setiap siswa secara bergantian memberitahu siswa lain tentang apa yang ia ingat atau pengalaman berkesan dari materi yang dipelajari.
b. Ngobrol Santai
o Satu kelompok terdiri dari tiga orang, misalnya A, B dan C.
o A mulai bercerita tentang topik yang dibahas sampai ada tanda berhenti.
o B melanjutkan bercerita tentang topik yang dipelajari dan belum diceritakan oleh A.
o C juga melakukan hal yang sama saat B berhenti bercerita.
o Demikian seterusnya sampai tidak ada lagi informasi yang bisa disampaikan.
Pada tahapan ini, siswa memiliki pengetahuan yang utuh bahkan mungkin mendapatkan inspirasi baru. Maka siswa bisa diajak untuk menyempurnakan karya yang telah dibuatnya pada saat demonstrasi. Hasil karya siswa bisa di display menjadi sumber belajar atau hiasan, bisa juga menjadi produk yang dipasarkan pada acara Market Day. Tahapan ini dalam Knowledge Spiral termasuk proses kombinasi.
Delapan proses di atas dilakukan secara berkelanjutan dan berputar terus mengikuti konsep Knowledge Spiral yaitu sosialisasi-internalisasi-eksternalisasi dan kombinasi. Maka pembelajaran akan aktif, kreatif, efektif, menyenangkan dan meninggalkan kesan yang luar biasa bagi siswa maupun guru.

B. Keunggulan Inovasi
Keunggulan proses pembelajaran berbasis Knowledge Spiral yang dipadukan dengan teori Multiple Intelligence ini adalah:
1. Selaras dengan standar nasional kurikulum PAUD yang tertuang dalam Permendiknas No. 58 Tahun 2009.
2. Dapat diterapkan pada semua materi/tema pembelajaran PAUD.
3. Dapat diaplikasikan pada model pembelajaran klasikal, area maupun sentra.
4. Proses pengembangan pengetahuan dapat berlangsung secara sistematis dan terus-menerus.
5. Siswa terbiasa mengolah pengetahuan yang ada menjadi hasil karya yang dapat dinikmati oleh orang lain.
6. Menumbuhkan jiwa enterpreuner pada siswa.
7. Pembelajaran senantiasa aktif, kreatif, efektif, menyenangkan dan berkesan baik bagi guru maupun siswa.
8. Mampu mengembangkan kecerdasan jamak siswa.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka kesimpulan yang didapatkan dari karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Usia dini adalah masa emas bagi tumbuh kembang anak. Pembelajaran yang didapatkan pada usia ini akan mempengaruhi perkembangan pada usia berikutnya.
2. Setiap anak menyimpan potensi multi talenta, masalahnya adalah bagaimana kita mampu mengaktivasi multi talenta tersebut.
3. Theory Multiple Intelligence Howard Gardner menyatakan bahwa ada delapan jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik, logika-matematika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal, intrapersonal dan natural.
4. Konsep Knowledge Spiral yang terdiri dari empat proses yaitu sosialisasi, internalisasi, eksternalisasi dan kombinasi, bisa menjadi alat untuk mengembangkan pengetahuan secara sistematis dan terus-menerus.
5. Lingkaran sukses pembelajaran berbasis Knowledge Spiral tediri dari delapan langkah, yaitu suasana kondusif, hubungkan, gambaran besar, tetapkan tujuan, pemasukan informasi, aktivasi, demonstrasi dan ulangi (SuHu Gambar Tetap PADU).
6. Inovasi pembelajaran yang memadukan antara Theory Multiple Intelligence dan Knowledge Spiral ini bisa diaplikasikan untuk mengaktivasi multi talenta anak melalui pembelajaran yang sistematis dan berkesinambungan.

B. Saran dan Rekomendasi
Sebagai tindak lanjut dari karya ilmiah ini, penulis memberikan saran dan rekomendasi sebagai berikut:
1. Bagi Dinas Pendidikan Terkait
• Mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi pendidik PAUD untuk mensosialisasikan Theory Multiple Intelligence dan Knowledge Spiral.
2. Bagi Yayasan Pembina
• Memberikan dukungan dan bantuan agar bisa dilakukan penelitian studi kasus/tindakan kelas untuk mengeksplorasi permasalahan yang muncul di lapangan.
3. Bagi Pendidik PAUD
• Selalu melakukan inovasi pembelajaran untuk mengembangkan multi talenta peserta didiknya.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Reni. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Grasindo. Jakarta.

Chatib, M. 2009. Sekolahnya Manusia. Mizan Pustaka. Bandung.

Champbell, L, Bruce, Dee Dickinson. 2007. Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. Intuisi Press. Depok.

Ginsburg, H., S. Opper. 1979. Piaget’s Theory of Intellectual Development. Prentice Hall. New York.

Gardner, H. 1983. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. N.Y. Basic Book.

Gunawan, A.W. 2004. Genius Learning Strategy. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Hidayat, A., Arief Imroni. 2004. Buku Panduan Mengajar KBK di RA-TK. Insida Lantabora. Jakarta.

Hidajat, J.T., Donald Crestofel Lantu. 2006. Knowledge Management dalam Konteks Organisasi Pembelajar. Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB. Bandung.

Kumpulan Hadits Pilihan. 2008. El-Diina Pusat. Bogor.

Nurhayati, W. 2009. Penerapan Konsep Knowledge Spiral pada Pembelajaran Anak Usia Dini (Studi Kasus Pada PAUD Aya Sophia). Aya Sophia. Tangerang.

Powell, M. 2003. Information Management for Development Organization. Oxford. Oxfam.

Pratomo B.S. 2004. Manajemen Pengetahuan. Majalah Yudhagama Nomor 64 Tahun XXIV Maret 2004. Jakarta.

Singer, D.G., T.A. Revenson. 1978. A Piaget Primer: How A Child Thinks. New American Library. New York.

Teskey, F.N. 1989. User Models and World Models for Data, Information and Knowledge. Information Processing and Management, Volume 25.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s